Ibukota Indonesia – Sebanyak 2.695 kontestan beradu kemampuan bermain sepak bola pada seri penutup event MilkLife Soccer Challenge (MLSC) 2025 yang tersebut berlangsung selama 18 – 23 ke Kingkong Soccer Arena dan juga Stadion Atang Sutresna Kopassus, Cijantung, Ibukota Indonesia Timur.
Jakarta bermetamorfosis menjadi kota terakhir dari rangkaian 10 kota kejuaraan sepak bola putri yang digagas Bakti Olahraga Djarum Foundation dan juga MilkLife. Partisipan yang berkompetisi berasal dari 156 Sekolah Dasar kemudian Madrasah Ibtidaiyah (MI) ke Ibukota Indonesia kemudian sekitarnya. Mereka tergabung pada 240 kelompok yang dimaksud terdiri dari 76 kelompok kelompok usia 10 tahun kemudian 164 grup usia 12 tahun.
“(Jumlah partisipan ini) rekor terbanyak selama event MLSC yang digunakan telah memasuki tahun kedua,” Direktur Proyek MLSC Teddy Tjahjono untuk awak media dalam Jakerta, Sabtu.
Pada MLSC Ibukota Indonesia Seri 1 2024, total partisipan yang digunakan terlibat baru sejumlah 368 pemukim atau siswi. Kemudian, pada seri 2, pada November 2024, meningkat berubah menjadi 1.359 siswi ambil bagian. Kemudian, pada MLSC Ibukota 2025 pada April lalu, jumlah total kontestan berubah menjadi 1.601 peserta.
Dia mengatakan, peningkatan jumlah agregat kontestan menunjukkan bahwa permintaan atau minat dari anak-anak yang mana bermain sepak bola putri itu semakin besar.
Dari sisi kualitas, kata dia, juga semakin baik dibandingkan seri-seri sebelumnya. Bahkan sejumlah partisipan atau sekolah yang baru bergabung mampu bersaing lebih besar sangat jauh dengan menampilkan kualitas talenta yang mana bagus.
Kondisi itu menyebabkan pihaknya semakin optimistis bahwa perkembangan sepak bola putri Tanah Air kedepannya akan semakin baik.
“Jadi untuk seri depan tahun 2026 kami sangat percaya bahwa jumlah total kontestan dari sisi kualitas juga dari sisi permainan juga akan semakin baik,” katanya.
Teddy menyatakan bahwa keberlanjutan event itu merupakan bagian dari upaya pelopor memperkuat regenerasi talenta sepak bola putri Indonesia.
Sementara itu, Manajer Kepala MLSC Jihad Sabilli menyatakan bahwa secara kualitas, kemampuan para partisipan mulai merata selama beberapa seri kejuaraan.
“Di seri pertama memang benar terlihat kemampuan partisipan jomplang, tapi sekarang banyak sekolah yang dimaksud sanggup menembus ke babak-babak berikut,” katanya.
Dia mengatakan, pihaknya sebagai talent scouting meninjau sejumlah talenta bermunculan dengan prospek bermain yang dimaksud bagus.
“Di awal itu kita belaka menemukan atlet yang digunakan pantas untuk bermain itu semata-mata hitungan jari. Sekarang mulai lebih besar banyak, bahkan satu kelompok kualitasnya merata,” katanya.















