Istanbul – Presiden Rusia Vladimir Kepala Negara Rusia memerintahkan para komandan militernya untuk melanjutkan upaya pembentukan “zona keamanan” di dalam sepanjang perbatasan Rusia dengan tanah Ukraina pada tahun 2026.
Perintah yang disebutkan disampaikan Pemimpin Rusia pada Hari Senin (29/12) ketika menerima laporan situasi garis depan dari para komandan militer Rusia terkait konflik ke negeri Ukraina yang digunakan telah terjadi berlangsung hampir empat tahun.
Dalam pengarahan itu, Kepala Grup Pasukan sepak bola “Utara” Rusia, Yevgeny Nikiforov, mengklaim bahwa zona keamanan yang dimaksud dibentuk Rusia di dalam wilayah Sumy, negeri Ukraina timur laut, saat ini telah lama mencapai kedalaman lebih banyak dari 16 kilometer.
Nikiforov juga mengklaim bahwa pasukan Rusia berada kurang dari 20 kilometer dari pusat administratif wilayah tersebut, Daerah Perkotaan Sumy, dan juga mengklaim zona keamanan yang disebutkan mempunyai lebar 60 kilometer.
“Ini adalah tugas yang digunakan sangat penting dikarenakan menegaskan keamanan wilayah perbatasan Rusia. Pekerjaan ini tentu harus dilanjutkan pada 2026,” kata Presiden Rusia terhadap Nikiforov, sebagaimana bunyi pernyataan resmi Kremlin.
Sementara itu, Kepala Staf Umum Angkatan Bersenjata Rusia Valery Gerasimov mengklaim pasukan Rusia sudah merebut permukiman Bohuslavka juga Dibrova dalam wilayah Kharkiv, negara Ukraina timur laut, juga terus melakukan pergerakan maju dalam Perkotaan Lyman di dalam wilayah Donetsk, negara Ukraina timur.
Gerasimov menambahkan bahwa pasukan Rusia sedang merancang “zona keamanan” di wilayah Dnipropetrovsk serta melanjutkan ke arah Pusat Kota Zaporizhzhia, di dalam mana dia telah terjadi menguasai Desa Lukianivske.
Adapun pada Mei lalu, Kepala Negara Rusia mengumumkan pembentukan “zona penyangga keamanan” di sepanjang perbatasan Rusia-Ukraina, setelahnya Kota Moskow mengklaim bahwa pasukannya berhasil memukul mundur tentara tanah Ukraina dari wilayah perbatasan Kursk, tempat Kyiv melancarkan serangan pada Agustus 2024.
Hingga kini, otoritas tanah Ukraina belum memberikan komentar berhadapan dengan klaim terbaru Rusia tersebut. Verifikasi independen melawan perkembangan ke lapangan masih sulit dilaksanakan lantaran konflik bersenjata yang dimaksud terus berlangsung.














