Macanbolanews

Platform Berita Viral & Eksklusif Terpercaya

Menakar dilema penambahan RTH serta prostitusi ruang terbuka ke Ibukota Indonesia

Menakar dilema penambahan RTH juga prostitusi ruang terbuka ke Ibukota Negara Indonesia

Ibukota – Prostitusi liar pada ruang terbuka pada wilayah Ibukota Indonesia bermetamorfosis menjadi topik yang dimaksud santer dibicarakan belakangan ini. Bukan cuma lantaran aktivitas haram itu tak tumpas oleh berkali-kali penertiban, tetapi bagaimana praktik itu dijalankan tepat di dalam pinggir jalan-jalan arteri.

Sederet aktivitas prostitusi liar yang mana tak lekang dimakan zaman, seperti ke Ruang Terbuka Hijau (RTH) Jalan Tubagus Angke serta Gang Royal, Tambora, barangkali sudah ada bermetamorfosis menjadi topik klasik.

Baru-baru ini, muncul lagi prostitusi sesama jenis (gay) pada taman Jalan Daan Mogot, Ibukota Barat. Dua penduduk pelaku prostitusi di dalam lokasi yang disebutkan pun sempat diamankan petugas.

Fenomena ini memunculkan beberapa pertanyaan terkait fungsi sebenarnya ruang terbuka, efektifitas penertiban dan juga kontrol sosial, menyusul prostitusi direalisasikan terang-terangan ke ruang terbuka.

Lebih jauh, praktik gelap yang digunakan keras kepala itu masih mengiang dalam berada dalam penambahan RTH di dalam wilayah Jakarta. Publik bertanya, apakah penambahan RTH menjadi kesempatan baru bagi oknum pelaku untuk ekspansi praktiknya?

Pertanyaan ini menjadi relevan mengingat penertiban prostitusi liar dalam satu lokasi, seperti Kalijodo, belaka akan menimbulkan praktik itu “bergeser” mencari suaka baru.

Kilas balik

Ikhtiar pemberantasan prostitusi liar pernah dikerjakan pada pertengahan 2025. Saat itu, beratus-ratus personel Satpol PP Jakbar dikerahkan untuk menjaring pekerja seks komersial (PSK) ilegal yang dimaksud beroperasi di Ruang Terbuka Hijau (RTH) Jalan Tubagus Angke.

Lokasi itu sempat menyebar pada pertengahan 2024, lantaran ditemukannya kondom atau alat kontrasepsi yang digunakan berserakan di dalam sepanjang RTH tersebut.

Penertiban dilaksanakan mendekati sedang malam, waktu para PSK beroperasi memburu pelanggan. Tidak butuh waktu lama, segera pasca tiba dalam lokasi, anggota menemukan banyak target.

Sejumlah PSK pun diamankan serta dimasukkan ke di mobil Satpol PP untuk dibawa ke kantor dinas sosial setempat.

Beberapa dari PSK yang mana dijaring sempat menangis histeris serta mencoba kabur dari penertiban petugas, namun akhirnya tetap berhasil diamankan.

“Saya sudah ada punya dua anak Pak, telah punya anak,” teriak orang PSK yang mana kabur serta jatuh pada sedang setelah itu lintas Jalan Tubagus Angke.

Selain itu, tambahan dari tiga tenda nonpermanen yang terbuat dari terpal juga sanggaan tongkat kayu juga berjejer dalam sepanjang RTH Tubagus Angke.

Tenda-tenda yang dimaksud digunakan oleh para PSK untuk melayani para pelanggan itu hampir tidaklah terlihat pada waktu malam hari, lantaran lampu jalan yang tersebut redup, ditambah dengan rimbunnya pepohonan RTH yang menyamarkan keberadaan tenda-tenda liar tersebut.

Tenda-tenda itu nampaknya cukup kuat, meskipun diterpa angin di malam hari lantaran diikatkan pada pepohonan RTH.

Usai mengamankan para PSK, pelaku membongkar tenda-tenda ruang prostitusi liar yang dimaksud lalu mengamankan terpalnya.

Semakin mendekati berada dalam malam, dengan situasi kendaraan pengangkut yang digunakan masih lowong, penertiban PSK berlanjut ke area Gang Royal (perbatasan DKI Jakarta Barat kemudian Ibukota Indonesia Utara).

Lokasi itu merupakan lahan milik PT Kereta Api Indonesi (KAI). Prostitusi pun dikerjakan pada lapak-lapak yang mana berada tepat ke pinggir rel kereta api. Saat tiba pada lokasi, tenaga Satpol PP segera turun dari mobil keranjang juga menerjang para PSK yang dimaksud berada dalam bersantai menanti pelanggan.

Melihat kedatangan petugas, puluhan PSK berlari untuk kabur dari penertiban. Sebagian dari merekan berlarian tak tentu arah menyeberangi rel kereta api, sebagian lagi berdesakan memasuki salah satu ruangan bagian berada dalam bangunan panjang pada berhadapan dengan lahan milik PT KAI tersebut.

Ruangan itu tampaknya mempunyai lantai bawah yang mana terhubung dengan pintu menuju Gang Royal, akses meninggalkan para PSK untuk kabur dari petugas.

Dari roman wajah para PSK yang digunakan berdesakan memasuki ruangan tersebut, tampak mereka berusia remaja hingga lansia. Mereka pun kesal dengan sorotan kamera para awak media.

“Aduh, kenapa divideoin, kenapa divideoin,” kata para PSK sambil menghentikan wajah mereka.

Beberapa PSK yang tersebut berhasil mencapai jalanan pun beramai-ramai melompati pagar untuk segera menjauh dari kejaran petugas.

Tidak semata-mata itu, banyak pria berpakaian sipil juga nampak mencoba melindungi para PSK dan juga mengarahkan mereka itu menuju akses pergi dari dari kedudukan prostitusi dalam pinggir rel kereta tersebut.

Adu mulut antara pria-pria pelindung PSK dengan awak media pun sempat terjadi.

“Woe, kenapa divideoin. Hapus enggak videonya,” kata salah satu pria dengan nada tinggi.

Seketika pria itu menjauh, bergabung sama-sama para PSK yang berjuang kabur kemudian seketika menghilang dari lokasi.