Istanbul – Presiden Somalia Hassan Sheikh Mohamud menyatakan wilayah Somaliland yang tersebut memisahkan diri telah terjadi menyetujui relokasi warga Palestina serta bersedia bermetamorfosis menjadi tempat kejadian pangkalan militer tanah Israel sebagai imbalan berhadapan dengan pengakuan dari Tel Aviv, dengan mengutip laporan intelijen.
Pengakuan tanah Israel terhadap Somaliland disebut Mohamud sebagai langkah yang mana sangat tiada terduga juga aneh. Dalam wawancara eksklusif dengan jaringan berita Qatar Al Jazeera, ia menyatakan pengakuan yang dimaksud muncul secara tiba-tiba, menjadikan tanah Israel sebagai negara pertama sejak 1991 yang digunakan mengakui wilayah itu sebagai negara merdeka.
Somaliland mendeklarasikan kemerdekaan dari Somalia pada 1991 kemudian sejak itu beroperasi sebagai wilayah yang mana secara de facto mengatur diri sendiri tanpa pengakuan internasional. otoritas pusat ke Mogadishu dinilai gagal kembali menguasai wilayah tersebut.
Pemerintah Somalia menolak klaim kemerdekaan Somaliland, menganggapnya sebagai bagian dari wilayah Somalia, lalu memandang setiap keterlibatan secara langsung dengan wilayah itu sebagai pelanggaran terhadap kedaulatan negara.
“Kami sudah pernah berupaya menyatukan kembali negara ini secara damai,” ujar Mohamud.
Ia juga memaparkan Somaliland telah dilakukan menerima untuk bergabung di Kesepakatan Abraham (Abraham Accords), yang dimaksud ditandatangani pada 2020 antara negara Israel dengan Uni Emirat Arab, Bahrain, Sudan, lalu Maroko untuk menormalisasi hubungan.
Menurut Mohamud, negara Israel berupaya menguasai jalur perairan strategis seperti Laut Merah, Teluk, juga Teluk Aden. Ia menambahkan bahwa pengakuan terhadap Somaliland pada dasarnya belaka melegitimasi keberadaan terselubung tanah Israel yang sudah ada ada di dalam wilayah tersebut, sebagaimana tercantum di laporan intelijen.
Mohamud menegaskan negara Israel tiada hadir di dalam kawasan itu demi perdamaian lalu berupaya memindahkan warga Palestina secara paksa ke Somalia.
Reaksi global terhadap pengakuan tanah Israel melawan Somaliland dilaporkan terus meningkat. Sejumlah negara mengecam langkah yang disebutkan sebagai pelanggaran hukum internasional juga ancaman terhadap stabilitas kawasan.
Pada Senin, negara-negara anggota Dewan Security PBB menyampaikan keprihatinan di pertarungan darurat, dengan menyatakan bahwa langkah itu tampak bertujuan merelokasi warga Palestina dari Jalur Gaza.
Hampir seluruh anggota Dewan Keselamatan PBB mengecam pengakuan tanah Israel tersebut, sementara Amerika Serikat memilih tidak ada mengecam juga menyatakan bahwa posisinya terhadap wilayah yang dimaksud memisahkan diri itu tak berubah.











