Macanbolanews

Platform Berita Viral & Eksklusif Terpercaya

Real Madrid Lolos Ajaib dari Cengkeraman Ular: Kemenangan yang Menipu Menyembunyikan Kelemahan Racikan Mourinho

Jose Mourinho

Kemenangan Real Madrid dengan susah payah memicu tanda tanya seputar “Sang Spesial”

Benar bahwa Real Madrid meraih kemenangan atas Inter Milan (2-1) di Stadion Santiago Bernabeu pada laga pembuka perjalanannya di Liga Champions Eropa, tetapi kemenangan itu tampak menipu dan tidak mencerminkan gambaran sebenarnya dari pertandingan, setelah tim ibu kota banyak kesulitan menghadapi lawannya asal Italia tersebut. Terlihat bahwa hasil akhir menyembunyikan sejumlah kesalahan yang dilakukan pelatih asal Portugal, Jose Mourinho, dalam memilih racikan yang tepat.

Meski Real Madrid menang dan memastikan tiga poin, Inter Milan adalah pihak yang lebih baik di sebagian besar durasi pertandingan, serta berhasil menerapkan gayanya dan mengancam gawang tim ibu kota dalam lebih dari satu kesempatan. Namun, penampilan gemilang kiper Thibaut Courtois mencegah keunggulan itu berubah menjadi gol, setelah ia menyelamatkan timnya dari peluang-peluang berbahaya yang bisa saja mengubah jalannya pertandingan.

Sebaliknya, Real Madrid tidak perlu menciptakan banyak peluang untuk mencetak gol, setelah memanfaatkan kesalahan-kesalahan naif yang dilakukan para pemain belakang Inter Milan dan kipernya. Hal itu memberi tim ibu kota keunggulan yang bukan merupakan hasil yang wajar, khususnya pada babak pertama yang memperlihatkan Nerazzurri tampil jauh lebih baik.

Para penyerang Real Madrid juga membuang peluang-peluang yang sangat mudah, yang seharusnya cukup untuk mematikan pertandingan dan memastikannya lebih awal ketika skor masih (2-0). Hal itu menambah kesulitan Los Merengues hingga menit-menit akhir, sehingga hasil pertandingan tetap positif bagi Mourinho, tetapi penampilan dan pilihan-pilihan yang mendahuluinya membuka pintu bagi banyak tanda tanya seputar bentuk permainan Real Madrid dalam ujian Eropa pertamanya.

Kombinasi yang tidak tepat

José Mourinho memasuki laga dengan menghadapi krisis yang jelas di lini tengah, setelah kehilangan tiga pemain sekaligus akibat larangan bermain, yaitu Eduardo Camavinga, Bernardo Silva, dan Arda Güler, karena kartu merah yang mereka terima pada edisi lalu Liga Champions Eropa. Hal ini membuat pelatih asal Portugal itu berada di hadapan ujian sulit untuk menentukan komposisi yang tepat di salah satu area terpenting di lapangan.

Kesulitan tugas Mourinho bertambah dengan belum sepenuhnya siapnya Aurélien Tchouameni, setelah kembali dari cedera baru-baru ini. Kondisi tersebut mendorong sang pelatih mengambil keputusan berani dengan memainkan Trent Alexander-Arnold di lini tengah bersama Fede Valverde, namun pilihan tersebut tidak berhasil memberikan Real Madrid keseimbangan yang dibutuhkan, dan justru menyingkap kelemahan yang jelas dalam cara bermain Los Blancos.

Kehadiran Arnold dan Valverde saja di tengah lapangan membuat area tersebut mudah ditembus para pemain Inter Milan, terlebih tim Italia itu mengandalkan lima pemain di lini tengah, yang memberi mereka keunggulan jumlah yang jelas serta kemampuan lebih besar dalam penguasaan bola, pergerakan, dan membangun serangan, sementara Real Madrid kesulitan mencapai keseimbangan yang dibutuhkan antara pertahanan dan serangan.

Dengan tekanan Inter yang terus berlanjut dan serangan yang datang bertubi-tubi, perbedaan itu semakin tampak, dan Real Madrid menjadi jelas bergantung pada ketangguhan Thibaut Courtois untuk mengatasi ancaman yang datang dari tim Italia tersebut, setelah kiper asal Belgia itu menepis sejumlah peluang. Hal ini turut membuat timnya tetap bertahan dalam pertandingan, sekaligus menunjukkan bahwa pilihan Mourinho terhadap komposisi lini tengah tidaklah tepat untuk menghadapi tim yang memiliki kepadatan jumlah dan dominasi seperti itu di tengah lapangan.

Kenaifan defensif dan serangan tanpa ampun

Di saat Inter Milan tengah menekan dan tampil sebagai pihak yang lebih unggul di atas lapangan, hadiah pertama untuk Real Madrid justru datang dari kesalahan konyol, setelah Aurel Bisseck kehilangan bola di area berbahaya, sehingga Brahim Diaz memanfaatkan situasi tersebut dan menciptakan gol pertama bagi Kylian Mbappe, dalam momen yang datang benar-benar berlawanan dengan jalannya pertandingan serta memberi keunggulan bagi Los Blancos di saat Inter menjadi pihak yang lebih aktif dan berbahaya.

Inter belum lagi mencerna gol pertama atau mendapatkan cukup waktu untuk menata ulang barisannya, ketika kiper mereka Josep Martinez melakukan kesalahan yang lebih konyol lagi, saat ia mencoba melewati Fede Valverde, tetapi kehilangan bola di depan pemain Real Madrid tersebut hingga bola langsung mengarah ke gawang, dan Los Blancos pun mendapati diri unggul dua gol tanpa balas meski jalannya pertandingan tidak mencerminkan keunggulan besar dalam skor tersebut.

Dengan cara ini, Real Madrid berhasil mengubah kesalahan individu para pemain Inter menjadi dua gol, tanpa perlu menampilkan level terbaiknya atau mendominasi jalannya pertandingan, sementara tim Italia itu justru lebih menguasai bola, lebih dominan, dan lebih banyak menciptakan peluang, tetapi mereka membayar mahal kesalahan-kesalahan defensifnya di hadapan sebuah tim yang memiliki pemain-pemain yang mampu menghukum lawan begitu mereka mendapatkan peluang.

Menjelang akhir babak pertama, gambarannya sangat jelas: Inter Milan adalah yang terbaik di atas lapangan dan Real Madrid adalah yang unggul dua gol, sebuah persamaan yang sebagian besar mencerminkan perbedaan antara kedua tim dalam menyikapi momen-momen krusial. Pasukan Ular menyia-nyiakan peluang, sementara Real Madrid memanfaatkan hadiah-hadiahnya dengan cara terbaik yang mungkin, hingga tiba di masa istirahat dengan keunggulan yang diraih dengan usaha seminimal mungkin.

Kemenangan yang menipu

Pada babak kedua, peluang terbuka bagi lini serang Real Madrid untuk memastikan kemenangan secara mutlak, setelah Inter Milan menyerang dengan seluruh lininya demi mengejar ketertinggalan, sehingga meninggalkan ruang-ruang besar di lini pertahanan. Kondisi ini memberikan lebih dari satu peluang berbahaya bagi para pemain Los Blancos untuk melancarkan serangan dan memanfaatkan ruang tersebut, namun ketergesa-gesaan di depan gawang menggagalkan tercapainya gol ketiga yang seharusnya bisa mengakhiri pertandingan sepenuhnya.

Seiring berjalannya waktu, Inter terus melancarkan usaha dan tekanannya terhadap pertahanan Real Madrid, hingga akhirnya berhasil sekitar seperempat jam sebelum akhir laga mencetak gol yang memperkecil ketertinggalan melalui Augusto. Hal ini membuat kecemasan kembali menyelimuti Los Blancos, dan mendorong Mourinho untuk melakukan perubahan cepat dengan menurunkan Aurelien Tchouameni di lini tengah, dengan tujuan menambah keseimbangan dan mengendalikan jalannya menit-menit tersisa.

Setelah gol tersebut, Real Madrid kembali bertahan secara nyaris total, dan para pemainnya mundur ke area mereka demi mempertahankan keunggulan, sementara Inter berupaya memanfaatkan kemunduran ini dan menekan hingga akhir. Namun, Los Blancos berhasil bertahan dan menjaga keunggulannya hingga peluit panjang, sehingga keluar dengan tiga poin meski dilanda kesulitan besar sepanjang pertandingan.

Dengan demikian, kemenangan Real Madrid atas Inter Milan tetap menjadi kemenangan yang menipu. Hasil ini memberikan Mourinho awal yang ideal di Liga Champions, tetapi penampilan tim mengungkap masalah yang jelas dalam komposisi, keseimbangan, dan pemanfaatan peluang. Tidak masuk akal untuk bergantung di setiap pertandingan pada kilauan individu Courtois, atau kesalahan lawan, atau kemampuan menyerang para pemain. Mourinho harus segera mengevaluasi kembali perhitungannya dan menemukan bentuk yang lebih baik untuk timnya, karena upaya individu tidak akan mampu setiap kali menyelamatkan Real Madrid atau menutupi kekurangannya.