JAKARTA – Pakar ASEAN, Phar Kim Beng, menyatakan dunia internasional patut memperhatikan dengan saksama ketika rakyat Indonesia bangkit melawan arogansi para politisi Parlemen. Alasannya, stabilitas atau ketidakstabilan bisa jadi berdampak pada ekonomi global.
“Dunia mengabaikan Indonesia akan sangat berbahaya. Dengan tambahan dari 275 jt penduduk, stabilitas atau ketidakstabilannya bergema di area seluruh ASEAN, Indo-Pasifik, dan juga sektor ekonomi global. Indonesia menjadi jangkar rantai pasokan, jalur perdagangan maritim, dan juga negosiasi iklim. Jika kontrak sosialnya mulai terurai, gelombang kejut tak akan bertahan di tempat pada wilayahnya,” tulis Phar Kim Beng pada artikel opininya dalam MalayMail, Akhir Pekan (31/8/2025).
Phar Kim Beng adalah Profesor Studi ASEAN di area Universitas Islam Internasional Negara Malaysia dan juga Direktur Institut Internasionalisasi juga Studi ASEAN (IINTAS).
Baca Juga: Demo Ricuh pada Indonesia Jadi Sorotan Dunia, Kedutaan Mancanegara Keluarkan Imbauan
Dalam artikelnya, pakar ini menyoroti ketahanan rakyat Indonesia yang dimaksud sungguh luar biasa pada hari-hari biasa. Dengan upah yang digunakan pas-pasan—rata-rata bukan melebihi USD320 (Rp5,2 juta) per bulan—jutaan anak muda berjuang keras mencari pekerjaan dalam sedang kegiatan ekonomi yang sulit mengimbangi aspirasi mereka.
Ritme hidup sehari-hari pada desa serta kota seringkali menggambarkan kedamaian, kesabaran, kemudian daya tahan yang tersebut tabah. Namun, menurutnya, citra itu pada saat ini sudah pernah hancur.
Parlemen yang mana Tak Tersentuh
Pada 25 Agustus 2025, 580 anggota Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) Indonesia dengan pernyataan bulat menyetujui pendapatan kemudian tunjangan dengan total lebih banyak dari Rp100 jt per bulan.
Menurut Phar Kim Beng, bagi populasi muda yang usia rata-ratanya baru 23 tahun, langkah itu terasa seperti hinaan yang mana dibalut arogansi. Di mata rakyat Indonesia, langkah itu bukanlah sekadar kenaikan gaji, tetapi simbol mendalam tentang betapa tak tersentuhnya para pemimpin mereka.















