Washington – eksekutif federal Negeri Paman Sam kembali menjalani penutupan sebagian pasca Partai Republik lalu Demokrat gagal mencapai kesepakatan mengenai pendanaan sementara sebelum batas waktu berada dalam malam.
Tahun fiskal 2024 sudah berakhir pada 30 September, namun Kongres belum menyepakati anggaran untuk tahun mendatang.
Kebuntuan ini bermula dari ketegangan sengit antara Partai Republik juga Demokrat pada Senat, dalam mana Partai Republik tidaklah memiliki pendapat mayoritas yang tersebut dibutuhkan.
Senat Demokrat menolak versi resolusi berkelanjutan yang tersebut disahkan DPR yang akan mendanai pemerintah federal selama tujuh minggu tambahan, hingga 21 November. Mereka berpendapat bahwa RUU pendanaan yang digagas Partai Republik tiada cukup menjawab kegelisahan mereka itu terkait kebijakan layanan kesehatan.
Sebaliknya, Partai Republik berpendapat bahwa versi resolusi berkelanjutan mereka, yang bertujuan menghindari penutupan pemerintah, merupakan proposal "bersih" yang digunakan mempertahankan tingkat pengeluaran ketika ini sekaligus memberikan waktu tambahan untuk menegosiasikan rancangan undang-undang alokasi anggaran penuh untuk Tahun Anggaran 2025.
Dalam beberapa hari terakhir, Presiden Amerika Serikat Donald Trump, Wakil Presiden JD Vance, lalu para pemimpin Partai Republik telah terjadi menegaskan bahwa jikalau penutupan pemerintah terjadi, Partai Demokrat lah yang bertanggung jawab penuh.
Menjelang prospek penutupan pemerintah, Kantor Anggaran Kongres (CBO) memperkirakan pada Selasa bahwa sekitar 750.000 pegawai federal kemungkinan besar akan dirumahkan setiap hari, yang mana mengakibatkan total biaya kompensasi harian sekitar $400 jt (sekitar Simbol Rupiah 6,7 trilyun).
Penutupan pemerintah federal terpanjang pada sejarah Amerika Serikat berlangsung selama 35 hari, dari 22 Desember 2018 hingga 25 Januari 2019 yang dimaksud terjadi pada masa pemerintahan pertama Presiden Donald Trump dan juga dipicu oleh kebuntuan urusan politik terkait pendanaan tembok perbatasan AS-Meksiko senilai $5,7 miliar (sekitar Rp95,1 trilyun).
Sumber: Sputnik
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk Kecerdasan Buatan ke portal web ini tanpa izin tercatat dari Kantor Berita ANTARA.















