Ibukota – Forum Derajat Tinggi Kerja Sama Kondisi Keuangan Asia-Pasifik (APEC) di Gyeongju, Korea Selatan pada akhir Oktober berubah menjadi sorotan planet pada berada dalam ketegangan geopoliitk lalu tantangan sektor ekonomi global.
Di berada dalam kembalinya pemerintahan Donald Trump ke Amerika Serikat dengan kebijakan “America First” serta pertempuran dagang antara Washington dan juga Beijing, bumi menunggu bagaimana para pemimpin APEC dapat mencapai konsensus, teristimewa terkait perdagangan bebas.
Bukan sekadar pertarungan para pemimpin negara di kawasan Asia-Pasifik, forum ini juga berubah jadi panggung strategis bagi Nusantara untuk menunjukkan bahwa Negara Indonesia siap untuk berperan lebih banyak berpartisipasi pada membentuk arah kebijakan dunia usaha regional lalu dunia.
APEC yang dimaksud didirikan pada November 1989 ini, terdiri dari 21 negara anggota —Amerika Serikat, China, Jepang, Rusia, Kanada, dan juga negara-negara lain di Asia Tenggara lalu Pasifik, diantaranya Indonesia, Peru, kemudian Chile.
Ekonomi negara-negara anggota APEC mencakup sekitar 60 persen Layanan Domestik Bruto (PDB) planet dan juga hampir setengah perdagangan global.
Resmi ditutup pada 1 November, Pertemuan Derajat Tinggi (KTT) APEC 2025 diakhiri dengan diadopsinya tiga dokumen Deklarasi Gyeongju, Inisiatif Kecerdasan Buatan APEC, serta Kerangka Bersama APEC untuk Menanggapi Perubahan Demografi.
Deklarasi Gyeongju menekankan pentingnya kerja sebanding untuk perdagangan/investasi, digital/inovasi, dan juga pertumbuhan inklusif melalui tiga program utama APEC tahun 2025, yaitu “Terhubung, Berinovasi, juga Sejahtera.”
Deklarasi yang disebutkan juga meyakinkan kembali tanggapan bersatu serta tekad kerja mirip antara negara-negara anggota APEC untuk menggerakkan perkembangan teknologi inovatif seperti kecerdasan buatan (AI), pembaharuan bangunan demografi dikarenakan penuaan usia penduduk, juga pertumbuhan perekonomian kawasan.
Deklarasi Gyeongju, untuk pertama kalinya sejak 2021, tidaklah lagi mencantumkan sistem perdagangan multilateral berbasis aturan dengan Organisasi Perdagangan Bumi (WTO) “sebagai intinya”. Hal ini mencerminkan semakin lebarnya perbedaan pandangan mengenai perdagangan di antara negara-negara sektor ekonomi utama dunia.
Deklarasi APEC 2025 ini juga berubah menjadi dokumen resmi pengumuman pemimpin perekonomian APEC pertama yang mana berisi mengenai sumbangan budaya dan juga lapangan usaha kreatif kemudian pentingnya kerja identik terkait.
Sedangkan dokumen inisiatif Kecerdasan Buatan APEC merupakan dokumen kesepakatan para pemimpin perekonomian APEC pertama terkait visi sama-sama Teknologi AI yang berisi kebijakan dasar pemerintah dan juga arah kerja mirip nyata terkait AI, salah satunya melalui konstruksi Pusat Teknologi AI Asia Pasifik.
Lalu, Kerangka Bersama APEC untuk Menanggapi Perubahan Demografi berisi tantangan kemudian program dengan kawasan terkait pembaharuan demografi akibat penurunan total kelahiran lalu penuaan usia populasi.














