DKI Jakarta – Terduga pelaku ledakan di dalam SMAN 72 Kelapa Gading, Ibukota Indonesia Utara berstatus anak yang mana berhadapan dengan hukum (ABH) pada waktu ini telah dilakukan usai menjalani operasi dan juga pada masa kini dirawat dalam unit perawatan intensif (ICU).
“Luka pasti di dalam bagian kepala lalu ada luka goresan. Iya, menjalani operasi pada bagian kepala,” kata Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Pol Budi Hermanto ke Polda Metro Jaya, Sabtu.
Budi menyebut, anak yang disebutkan pada masa kini telah sadar, namun masih harus menjalani perawatan medis secara bertahap.
Luka yang tersebut dialami cukup berat, khususnya pada bagian kepala, sehingga memerlukan tindakan operasi.
Menurut Budi, terduga pelaku pada saat ini masih berada pada ruang ICU dengan penjagaan ketat oleh personel kepolisian.
Pengamanan itu diwujudkan tidak hanya sekali untuk mengantisipasi hal-hal yang digunakan tidaklah diinginkan, tetapi juga untuk menjamin serangkaian perawatan berjalan aman.
“Dijaga ketat pasti. Bukan hanya sekali pelaku, terhadap individu yang terjebak juga kita jaga, sebab kita berharap tak terbentuk fatalitas yang lebih lanjut berat,” ujar Budi.
Selain itu, Budi menjelaskan, meskipun situasi medisnya mulai membaik, langkah-langkah pemulihan terduga pelaku harus dijalankan secara hati-hati.
Selain pemulihan fisik, tim juga memperhatikan aspek psikologisnya mengingat usia pelaku yang digunakan masih tergolong anak.
“Sudah sadar, tapi pemulihan harus pelan-pelan dikarenakan bentuk perlukaan juga masih berat. Jadi kita harus sama-sama perhatikan dulu pemulihan fisik medis satu di antaranya psikis yang dimaksud bersangkutan,” jelas Budi.
Penyidik juga pihak rumah sakit berkoordinasi erat dengan lembaga proteksi anak untuk menjamin serangkaian penanganan sesuai prosedur hukum bagi anak ke bawah umur.
“Perlu kami komunikasikan terhadap rekan-rekan sekalian, untuk sama-sama mempertahankan hak-hak khusus yang mana harus dipenuhi, yaitu pemeliharaan identitas kemudian perlakuan khusus terhadap anak yang digunakan berhadapan dengan hukum,” ucap Budi.
Meski berstatus sebagai anak yang dimaksud berhadapan dengan hukum, serangkaian penyelidikan terhadap dugaan keterlibatan terduga pelaku pada tindakan hukum ledakan masih berjalan.
Saat ini, Densus 88 bersatu Ditreskrimum Polda Metro Jaya masih mendalami motif di dalam balik kejadian tersebut.
“Untuk motif masih didalami oleh Densus 88 serta Krimum Polda Metro Jaya. Setelah pengumpulan serta analisa barang bukti dari TKP, hasil penggeledahan, juga keterangan saksi, nanti akan disampaikan secara lengkap oleh Pak Kapolri serta Pak Kapolda Metro Jaya,” ucap Budi.
Budi menegaskan, masyarakat diminta untuk tak berspekulasi lebih tinggi jarak jauh sebelum hasil penyelidikan resmi diumumkan.
“Sehingga tidaklah bias isu motif ataupun kejadian yang terjadi,” tegas Budi.
Pada Hari Jumat (7/11) sekira pukul 12.15 WIB, muncul ledakan pada lingkungan SMA Negeri 72 Ibukota Indonesia pada Kelapa Gading, Ibukota Utara, tepatnya pada komplek Kodamar TNI Angkatan Laut (AL).
Menurut penjelasan saksi, ledakan terbentuk pada waktu siswa juga guru sedang Shalat hari terakhir pekan pada masjid dalam sekolah tersebut. Letusan pertama pertama terdengar pada saat khotbah sedang berlangsung, disusul ledakan kedua yang dimaksud diduga berasal dari arah berbeda.
Ledakan itu menyebabkan para orang yang terdampar mengalami beragam cedera, satu di antaranya luka bakar kemudian luka akibat serpihan, sekaligus menyulut kepanikan dari warga sekolah serta penduduk sekitar.
Berdasarkan investigasi awal, pelaku diduga merupakan salah satu siswa dari sekolah tersebut.
Siswa itu dikabarkan mengalami perundungan (bullying) yang digunakan diduga menjadi motif untuk melakukan aksi tersebut.
Di kedudukan juga ditemukan benda yang digunakan mirip senjata airsoft gun dan juga revolver yang tersebut setelahnya pemeriksaan dipastikan bahwa senjata itu adalah mainan.















