JAKARTA – Hari ini, di rangka menyongsong HUT 104 Rumah Sakit Santo Borromeus, Bandung, dilaksanakan beberapa jumlah kegiatan yang dimaksud berkontibusi terhadap kebugaran warga Bandung lalu Jawa Barat. Perayaan dijalankan melalui sejumlah kegiatan mulai dari peluncuran komunitas “Borromeus Runners” melalui kegiatan berlari sejauh 5 kilometer, Salsation bersama, penyelenggaraan acara talk show bertajuk “Burden of Health Problems in Bandung: The Importance of Promotive and Preventive Medicine (Beban Bidang Kesehatan dalam Pusat Kota Bandung: Kegunaan Pengobatan Promotif juga Preventif)”, peluncuran “Borromeus Health Travel Services”, sampai dengan acara donor darah guna menggalang ketersediaan darah dalam Palang Merah Indonesia Unit Transfusi Darah Perkotaan Bandung.
Direktur Utama RS Borromeus, dr. Chandra Mulyono, Sp.S, yang mana diwakili oleh dr. Marvin Marino, SpGK, AIFO-K, Direktur Medis RS Borromeus, mengungkapkan rasa syukur melawan perjalanan panjang rumah sakit yang telah dilakukan hadir lalu melayani penduduk Bandung dan juga Jawa Barat selama 104 tahun. “Dalam rangka menyongsong hari jadi yang ke-104 adalah momen penuh syukur bagi kami. Selama lebih tinggi dari satu abad, kami dipercaya mendampingi warga Bandung serta Jawa Barat di menjaga kesehatan, dan juga amanah ini akan terus kami pegang. Kami sadar tantangan kebugaran semakin kompleks, dari penyakit menular seperti DBD hingga penyakit bukan menular yang tersebut terus meningkat. Karena itu, kami berazam untuk terus meningkatkan mutu pelayanan serta menguatkan upaya promotif dan juga preventif, agar penduduk bukanlah semata-mata dirawat ketika sakit, tetapi juga terlindungi sebelum sakit. Terima kasih terhadap para mitra, termasuk Takeda, kemudian seluruh pihak, yang digunakan sudah pernah berpartisipasi di perayaan ini, serta untuk publik Bandung serta Jawa Barat melawan kepercayaannya yang mana diberikan selama ini.”
Demam Berdarah Dengue (DBD) Ancaman Serius pada Jawa Barat
Di antara rangkaian kegiatan perayaan HUT ke-104 RS Borromeus, sesi talk show menjadi sorotan utama lantaran menekankan pentingnya upaya promotif lalu preventif di menghadapi berbagai tantangan kondisi tubuh yang dimaksud ada di dalam masyarakat. Salah satu isu yang dimaksud dibahas secara mendalam adalah demam berdarah dengue atau biasa dikenal dengan DBD, yang dimaksud terus menjadi ancaman kritis dalam Jawa Barat dengan persoalan hukum yang mana meningkat lalu berdampak luas pada keluarga lalu komunitas.
Data Kementerian Bidang Kesehatan Republik Indonesia mencatat, sampai dengan minggu ke-25 tahun 2025 (Juni 2025), Jawa Barat tercatat sebagai provinsi dengan jumlah agregat persoalan hukum DBD tertinggi di area Indonesia, yaitu 17.281 kasus. Angka kematian akibat dengue di tempat Jawa Barat juga menempati urutan kedua tertinggi secara nasional, dengan 61 kematian. Angka yang tersebut serupa menempatkan Pusat Kota Bandung serta Kota Bandung sebagai wilayah dengan tindakan hukum DBD tertinggi nasional kedua dan juga ketiga, yaitu sebanyak 1.475 lalu 1.465 kasus.















