Bangkok – SEA Games 2025 Thailand meninggalkan banyak cerita tentang emas, podium tertinggi, serta lagu kebangsaan yang dimaksud berkumandang.
Kamera merekam selebrasi, air mata bahagia, dan juga kisah perjuangan atlet peraih medali. Namun di dalam balik sorotan itu, ada cerita lain yang jarang mendapat ruang.
Kisah dia yang digunakan kalah, dia yang mana pulang tanpa emas, bahkan tanpa medali.
Tulisan ini tidak tentang ofisial tim yang bekerja ke balik layar, juga bukanlah tentang strategi atau rapat evaluasi. Mereka juga berjuang dan juga tak banyak mendapat ruang bidikkan.
Namun ini adalah cerita tentang atlet-atlet Negara Indonesia yang digunakan pada SEA Games 2025 tak tersorot kamera. Bukan oleh sebab itu mereka gagal berjuang, melainkan oleh sebab itu hasil belum berpihak.
Dalam olahraga, kalah adalah keniscayaan. Namun menerima kekalahan tiada selalu mudah. Terutama bagi merekan yang digunakan sudah pernah mengorbankan waktu, tenaga, bahkan masa muda untuk satu momen bernama pertandingan.
Kalah tidak sekadar tentang skor, tetapi juga perihal harapan yang runtuh, target yang digunakan meleset, lalu rasa sesak yang tersebut tak setiap saat bisa saja diucapkan.
Indonesia mengirim lebih tinggi dari seribu atlet ke Thailand. Raihan 91 emas (hingga tulisan ini terbit) patut disyukuri, tetapi hitungan itu juga menyiratkan fakta lain yakni sangat lebih lanjut sejumlah atlet yang belum mampu mencapai podium. Di situlah keheningan kerap hadir.
Tangis yang tersebut tertahan, tatapan kosong, hingga diam panjang dalam sudut arena, semua bermetamorfosis menjadi pemandangan yang digunakan jarang tersiar.













