Jakarta – Dalam menata interior ruangan, karpet permadani menjadi elemen penting untuk menambah nilai estetika kemudian kenyamanan. Karpet juga berfungsi untuk melindungi lantai dari goresan kemudian kotoran.
Selama ini masyarakat di dalam Nusantara lebih tinggi mengenal Persia juga Turki sebagai produksi karpet nomor satu di dunia. Namun, ternyata karpet buatan pada negeri juga mulai dilirik pangsa lokal.
Managing Director Royal Rugs Indonesia, Tarun Chandru mengungkap bahwa produk-produk di negeri sempat tersisih oleh karpet impor dari Persia juga Turki. Terbaru, China juga mulai memasuki lingkungan ekonomi dengan biaya yang digunakan sangat murah.
Di Indonesi pada waktu ini, pangsa pangsa karpet dikuasai buatan China sedikitnya 60% pada 2020. Namun kini, usaha karpet permadani buatan Indonesia mulai menemukan titik terang.
“Pasar karpet UMKM ke Nusantara telah mulai menggeliat di Tanah Air meskipun sempat carut-marut lantaran masuknya karpet impor. Hal ini mampu dilihat dari banyaknya permintaan komunitas yang digunakan memesan secara customize kemudian retail,” ujar Tarun untuk CNBC Indonesia, Hari Sabtu (27/9/2025).
Lebih lanjut ia mengutarakan bahwa sejak 2022 adanya peningkatan perdagangan baik secara offline maupun online. Dimana didominasi online sekitar Simbol Rupiah 70 persen.
Adapun aspek utama yang tersebut memacu peningkatan lingkungan ekonomi karpet permadani ke Negara Indonesia adalah strategi inovasi. Hal ini dikerjakan dengan mengembangkan kualitas materi baku dasar hingga pilihan benang yang digunakan.
Selain itu, desain barang juga menjadi kunci utama keberlangsungan bisnis. Desain yang dimaksud unik dan juga inovatif membantu untuk mengejutkan pelanggan dan juga memulai pembangunan citra merek yang digunakan kuat sehingga meningkatkan transaksi jual beli juga pendapatan.
Meskipun tidak dibuat dengan handmade, karpet UMKM ke Negara Indonesia dirancang dengan mesin canggih (tufting) yang tersebut memungkinkan desain karpet yang dimaksud kompleks serta detail lebih besar berkualitas. Sehingga hasilnya mampu bersaing dengan kualitas impor namun nilai tukar yang terjangkau.
“Kondisi lingkungan ekonomi lalu persaingan bidang usaha menimbulkan pengusaha perusahaan lokal harus berani mendirikan serta menciptakan komoditas inovatif, segar dan juga berkualitas.
Dengan mengikuti tren lalu memenuhi keperluan pangsa maka komoditas Indonesi bisa jadi merajai pangsa nasional maupun internasional,” paparnya.
(lih/haa)
[Gambas:Video CNBC]
Next Article Pria Ini adalah Maju Ekspor Kerajinan Saat Berjuang Lawan Penyakit Langka
Artikel ini disadur dari Saingi Iran dan Turki, Pasar Karpet Permadani RI Mulai Dilirik













