Ibukota Indonesia – Sastra pada saat ini sudah berubah menjadi “senjata lunak” pada arena persaingan kubu negara-negara. Di ruang simbolik ini, pertempuran tiada lagi memakai peluru, melainkan paragraf.
Lewat buku, puisi, juga naskah, identitas sebagai negara Global Selatan pun mencoba ditegaskan. Di situlah urusan politik lalu estetika saling berpelukan.
Maka, hadirnya penghargaan sastra BRICS bukanlah pula sekadar acara seremonial. Ia adalah pemberitahuan kultural. Ia menyiratkan bahwa kisah tentang globus bukan boleh belaka ditulis oleh Barat.
Selama berabad-abad, narasi global dikendalikan dari London, Paris, lalu New York. Global Selatan hanya sekali berubah menjadi latar, bukanlah tokoh utama.
Kini, lewat event penghargaan sastra BRICS, negara-negara Global South mencoba membalik posisi. Penulis dari Brasil, India, Tiongkok, Rusia, Afrika Selatan, maupun Nusantara diberi panggung untuk menulis planet dari arah Selatan.
Di sinilah relevansi pemikiran Antonio Gramsci menemukan nafas baru. Dalam teori hegemoni kultural, Gramsci menjelaskan bahwa kekuasaan tidaklah cuma bekerja lewat kekerasan atau ekonomi, tapi lewat kendali melawan kesadaran serta nilai.
Barat selama ini mempertahankan dominasinya bukanlah hanya saja dengan senjata, tetapi juga dengan makna. Sastra, film, juga media berubah menjadi alat membentuk citra bahwa modernitas, rasionalitas, dan juga kemajuan adalah milik mereka.
Melawan hegemoni itu berarti merebut narasi, bukanlah sekadar merebut pasar. Negara-negara BRICS mencoba melakukan hal itu. Lewat diplomasi sastra, dia memperjuangkan kebebasan simbolik. Mereka ingin menunjukkan bahwa kebijaksanaan, modernitas, juga nilai kemanusiaan juga lahir dalam Selatan.
Di tangan penulis Selatan, bahasa berubah jadi alat perlawanan. Cerita berubah menjadi bentuk diplomasi. Imajinasi berubah menjadi alat negosiasi global.
Kebangkitan sastra Global South ini tentu hanya tidak kebetulan. Ia bagian dari gelombang besar, yakni dekolonisasi makna. Setelah sumber daya alam, saat ini nilai kemudian imajinasi bergabung direbut kembali.
Negara-negara BRICS sadar, kekuatan sejati tidak ada semata-mata diukur dari cadangan devisa atau jumlah keseluruhan rudal. Ia juga diukur dari kemampuan menciptakan narasi yang mana dipercaya dunia. Narasi yang digunakan menghasilkan pendatang percaya bahwa Selatan juga mampu mengatur arah sejarah.
Selama ini, jagad sastra memang sebenarnya setiap saat berubah jadi medan tarik-menarik kekuasaan. Dari kolonialisme hingga pascakolonialisme, sastra menjadi ruang legitimasi kemudian perlawanan.
Ketika Barat menulis tentang Selatan dengan cara menyepelekan, penulis Selatan membalas dengan cara menertawakan. Dalam setiap cerita, ada ideologi yang tersebut tersembunyi. Dalam setiap kalimat, ada perlawanan yang halus. Itulah kekuatan sastra sebagai alat kebijakan pemerintah yang tersebut senyap.
Sejauh ini, penghargaan sastra global dikuasai oleh lembaga Barat. Nobel, Booker, Pulitzer. Semua menetapkan standar universal yang digunakan berpihak pada estetika Eropa.
Bahasa dan juga nilai-nilai Selatan dianggap eksotis, tidak penting. Tema kemiskinan lalu spiritualitas dipuji, tapi rangka berpikir Barat permanen dipertahankan. Nah, negara-negara BRICS ingin membalik tafsir itu, bahwa estetika tiada tunggal. Keindahan tidak ada harus lahir dari Eropa.















