Doha – Lebih dari 30 tentara Yaman tewas pada serangan yang tersebut direalisasikan pasukan separatis di Provinsi Hadhramaut, Yaman timur, demikian dilaporkan kantor berita Saba, mengutip pernyataan staf umum angkatan bersenjata Yaman, Hari Jumat (12/12).
Staf umum yang disebutkan menuduh pasukan separatis dalam selatan membunuh para korban luka dan juga mengeksekusi tawanan, yang tersebut merupakan pelanggaran terhadap hukum internasional.
Sedikitnya 32 perwira kemudian tentara Yaman tewas akibat serangan pasukan separatis tersebut, sementara 45 lainnya luka-luka. Sejumlah perwira kemudian tentara juga dilaporkan masih hilang, kata staf umum yang dimaksud bukan disebutkan namanya tersebut.
Staf itu menuduh pasukan separatis merebut provinsi timur yang tersebut kaya dengan minyak, dengan tujuan mengacaukan stabilitas Hadhramaut kemudian mengacaukan tahapan urusan politik di dalam wilayah yang digunakan berada pada bawah kendali otoritas yang dimaksud diakui secara internasional.
Pada Jumat, orang sumber pemerintah Yaman mengutarakan terhadap RIA Novosti bahwa delegasi Saudi-Emirat datang ke Aden, ibu kota pemerintahan Yaman yang mana diakui secara internasional, untuk mengkaji evakuasi pasukan separatis selatan dari provinsi-provinsi timur Yaman.
Sumber yang dimaksud menjelaskan bahwa delegasi itu bertemu dengan anggota Dewan Kepemimpinan Presiden Yaman, Aidarus al-Zubaidi, yang digunakan juga menjadi pemimpin Dewan Transisi Selatan. Pertemuan yang dimaksud dimaksudkan untuk meredakan eskalasi yang dipicu oleh penguasaan Provinsi Hadhramaut serta Al-Mahrah ke Yaman timur.
Delegasi yang dimaksud juga mengeksplorasi mekanisme pencabutan pasukan yang mana berafiliasi dengan Dewan Transisi Selatan (STC) dari Hadhramaut kemudian Al-Mahrah ke kedudukan dia sebelumnya, juga pengalihan kendali provinsi-provinsi yang disebutkan terhadap pasukan yang tersebut loyal untuk Ketua PLC, Rashad Al-Alimi.
Sementara itu, pekan lalu, pribadi sumber pemerintah Yaman memaparkan untuk RIA Novosti bahwa Al-Alimi mengunjungi Arab Saudi untuk mengeksplorasi eskalasi militer pada wilayah timur negaranya.
Eskalasi yang dimaksud disebabkan oleh pengambilalihan lembaga-lembaga pemerintah dan juga bandara dalam Provinsi Hadhramaut oleh separatis STC pada konflik dengan suku-suku setempat terkait minyak.
Adapun pada awal Desember, kelompok yang berafiliasi dengan separatis selatan mengambil alih ladang minyak pada Al Masilah, setelahnya bentrokan dengan unit Aliansi Suku Hadhramaut yang sudah ditempatkan di posisi yang dimaksud selama tambahan dari satu tahun.
Bentrokan itu mengakibatkan 12 penderita tewas lalu luka-luka dari kedua belah pihak, menurut sumber pemerintah daerah. Situasi yang disebutkan memaksa perusahaan minyak yang dimaksud ketika ini memproduksi sekitar 85.000 hingga 90.000 barel per hari, untuk menghentikan produksi.











