JAKARTA – Sultan Ibrahim bin Sultan Iskandar adalah Yang di-Pertuan Agong atau Raja Kerajaan Malaysia. Dia dikenal sebagai miliarder dengan dengan kekayaan keluarga sekitar USD5,7 miliar (Rp92,6 triliun).
Dia merupakan penguasa yang vokal kemudian bertekad untuk memberikan pengaruh juga menolak menjadi apa yang tersebut disebutnya sebagai “raja boneka” di dalam pemerintahan Malaysia.
Miliarder berusia 66 tahun ini naik takhta tahun lalu pada bawah sistem monarki konstitusional Malaya yang tersebut unik, di tempat mana sembilan penguasa turun-temurun, yang tersebut dikenal sebagai “sultan”, bergantian menjadi raja.
Baca Juga: Miliarder John Fredriksen Tinggalkan Inggris, Sebut Planet Barat Menuju Kehancuran
Sultan Ibrahim, yang menjadi pemimpin Johor, negara bagian terpadat kedua di dalam Malaysia, dianggap sebagai salah satu tokoh paling berkuasa juga kaya di area negara ini sangat sebelum naik takhta. Dia menonjol bahkan dalam antara para sultan dikarenakan kekayaannya yang dimaksud begitu banyak ia pamerkan.
Sang raja, yang mana digambarkan oleh Bloomberg sebagai “pengendara sepeda gowes motor, pengemudi Ferrari, dan juga bergerak pada Instagram”, mempunyai koleksi 300 mobil mewah dan juga empat jet pribadi, termasuk sebuah Boeing 737, juga memiliki peluncuran yang kuat di tempat media sosial dengan lebih tinggi dari 1,1 jt pengikut di dalam Facebook serta 973.000 pengikut di tempat Instagram.
Meskipun banyak perhatian tertuju pada kekayaan dan juga pengaruhnya, ia juga dikenal dikarenakan menyuarakan isu-isu yang digunakan biasanya diserahkan untuk politisi terpilih.
Meskipun peran raja dalam Tanah Melayu sebagian besar bersifat seremonial, Sultan Ibrahim sudah menegaskan bahwa beliau tidaklah berniat menghabiskan lima tahun masa pemerintahannya sebagai “raja boneka”, melainkan bersumpah untuk memerangi korupsi kemudian memajukan persatuan nasional.
Dia sudah pernah memposisikan dirinya sebagai raja rakyat serta mengadvokasi toleransi di dalam Malaysia. Dia pernah menyatakan bahwa beliau berdiri dengan rakyatnya, alih-alih bersatu anggota Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) atau Parlemen terpilih.
“Ada 222 dari Anda (anggota Parlemen) pada Parlemen—ada lebih lanjut dari 30 jt dalam luar,” katanya di sebuah wawancara dengan The Straits Times dalam akhir tahun 2023. “Saya bukan dengan Anda. Saya dengan mereka.”
Dalam pidato kerajaan di tempat sidang Parlemen awal bulan ini, ia memohonkan anggota Parlemen untuk “berhenti berpolitik” pada setiap isu untuk memprioritaskan kepentingan satu partai atau kelompok, seperti yang dilaporkan oleh surat kabar Malaysia, The Star.











