Hamilton, Kanada – Pasukan sepak bola Sementara Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) di Lebanon atau UNIFIL menyatakan personel penjaga perdamaiannya mendapat tembakan senjata ringan juga senapan mesin di dekat Kafer Shouba, Lebanon selatan, Jumat.
“Pagi ini, pasukan penjaga perdamaian yang dimaksud berpatroli di dekat Kafer Shouba melaporkan 15 tembakan senjata ringan yang mengenai jarak tiada lebih banyak dari 50 meter dari mereka,” kata UNIFIL di sebuah pernyataan.
Dalam pernyataannya, UNIFIL menjamin bahwa tembakan yang dimaksud berasal dari sikap militer tanah Israel dalam selatan Garis Biru.
Kurang dari 20 menit kemudian, patroli kedua di wilayah yang dimaksud sebanding melaporkan sekitar 100 peluru senapan mesin menghantam area dengan jarak sekitar 50 meter dari area mereka.
UNIFIL menegaskan tidaklah ada kerusakan maupun orang yang terdampar luka pada kedua insiden tersebut. Namun, misi PBB itu menegaskan bahwa tembakan berasal dari kedudukan militer tanah Israel pada selatan Garis Biru di kedua kejadian, juga menyampaikan bahwa permintaan penghentian tembakan sudah dikirim melalui jalur penghubung resmi.
UNIFIL juga menekankan bahwa patroli yang dimaksud telah dilakukan dikoordinasikan sebelumnya. Misi itu menyebutkan bahwa pihaknya telah dilakukan memberi tahu Tim Keamanan negeri Israel mengenai aktivitas patroli dalam wilayah tersebut, sesuai dengan prosedur yang mana biasa diterapkan untuk area sensitif di sekitar Garis Biru.
Menurut UNIFIL, insiden semacam ini berlangsung terlalu rutin serta mulai berubah menjadi tren yang mana mengkhawatirkan. Misi PBB itu mengingatkan bahwa serangan terhadap atau di dalam sekitar pasukan penjaga perdamaian merupakan pelanggaran kritis terhadap Resolusi Dewan Keselamatan PBB 1701.
UNIFIL juga menyerukan untuk militer negeri Israel untuk menghentikan perilaku agresif dan juga serangan terhadap atau dalam sekitar pasukan penjaga perdamaian yang mana bertugas melindungi perdamaian lalu stabilitas di sepanjang Garis Biru.
Hingga berita ini diturunkan, belum ada komentar dari militer negara Israel terkait pernyataan tersebut.
Patroli pasukan penjaga perdamaian PBB dalam Lebanon selatan kerap berubah menjadi sasaran tindakan kekerasan Israel, di antaranya pembidikan laser lalu tembakan peringatan.
Juru bicara Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres, Stephane Dujarric, sebelumnya mengatakan insiden-insiden yang disebutkan sebagai kejadian yang tersebut sangat berbahaya.
Gencatan senjata ke Lebanon diberlakukan sejak November 2024 setelahnya lebih lanjut dari satu tahun serangan yang dimaksud menewaskan lebih lanjut dari 4.000 pemukim dan juga melukai sekitar 17.000 lainnya, di dalam berada dalam pertempuran tanah Israel di dalam Gaza.
Kementerian Aspek Kesehatan Lebanon mencatatkan sedikitnya 335 pemukim tewas kemudian 973 lainnya terluka akibat serangan negeri Israel sejak gencatan senjata berlaku.
Berdasarkan kesepakatan gencatan senjata, militer negara Israel seharusnya mendebarkan diri sepenuhnya dari Lebanon selatan pada Januari 2025. Namun, pencabutan yang disebutkan baru dilaksanakan sebagian, serta tanah Israel masih mempertahankan peluncuran militernya ke lima pos perbatasan.














