Tokyo – Amerika Serikat (AS) menyatakan uji coba rudal balistik yang digunakan dapat menghadirkan hulu ledak nuklir dari kapal selam milik China merupakan perkembangan yang dimaksud “sangat mengkhawatirkan” bagi kawasan Asia maupun dunia.
Menanggapi uji coba yang mana diwujudkan sekitar 20 jam sebelumnya itu, Departemen Luar Negeri AS, Awal Minggu (6/7), mengeluarkan pernyataan yang dimaksud mendesak China agar menahan laju proliferasi senjata nuklir juga menegaskan kembali komitmen Washington terhadap pertahanan para sekutunya.
“Percepatan pengembangan senjata nuklir Beijing yang tersebut berlangsung cepat lalu tak transparan sangat mengkhawatirkan bagi kawasan maupun dunia,” demikian pernyataan Departemen Luar Negeri AS.
Menurut militer kemudian media pemerintah China, angkatan laut negara itu pada Awal Minggu berhasil meluncurkan rudal strategis yang digunakan menyebabkan hulu ledak tiruan dari kapal selam bertenaga nuklir menuju perairan lepas di Samudera Pasifik.
Departemen Luar Negeri Amerika Serikat menyatakan pihaknya memantau peluncuran rudal balistik antarbenua yang mana tidak ada menghadirkan hulu ledak yang dimaksud hingga jatuh pada kawasan selatan Samudera Pasifik.
Washington juga mengajukan permohonan China terlibat pada pembahasan pengendalian senjata yang dimaksud tambahan bermakna dan juga berjanji menerapkan mekanisme pemberitahuan rutin mengenai peluncuran rudal maupun wahana antariksa.
Menurut AS, komitmen yang disebutkan telah dilakukan dijalankan oleh negara-negara anggota permanen Dewan Keselamatan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), yakni Inggris, Prancis, Rusia, serta Amerika Serikat.
Pernyataan Amerika Serikat itu menambah daftar negara yang tersebut menyampaikan keprihatinan merek melawan peluncuran tersebut, pasca sebelumnya Australia, Jepang, serta beberapa negara lain juga menyampaikan kritik.
Respons itu muncul saat Presiden Amerika Serikat Donald Trump lalu Presiden China Xi Jinping berada dalam berupaya menstabilkan hubungan bilateral ke sedang persaingan geopolitik yang masih berlangsung.
Setelah Trump berkunjung ke Beijing pada pertengahan Mei, Xi dijadwalkan melakukan kunjungan kenegaraan ke Amerika Serikat. Keduanya sudah setuju bertemu ke Gedung Putih pada 24 September mendatang.
Departemen Luar Negeri Negeri Paman Sam tidaklah menjelaskan apakah Washington telah dilakukan menerima pemberitahuan sebelum peluncuran rudal dilakukan.
Sebelumnya, pemerintah China menyatakan uji coba yang dimaksud merupakan bagian rutin dari latihan militer tahunan angkatan laut dan juga tidak ada ditujukan terhadap negara tertentu.
China juga menegaskan rudal yang dimaksud jatuh tepat ke wilayah perairan yang dimaksud telah terjadi ditentukan juga seluruh pelaksanaan uji coba dilaksanakan sesuai hukum internasional.
Sementara itu, surat kabar Global Times yang tersebut diterbitkan oleh People’s Daily, media resmi Partai Komunis China, memuat tajuk rencana berjudul “Semakin Tangguh Kekuatan Nuklir Penting China, Semakin Terjamin Kedamaian Kawasan.”
Media yang dimaksud mengumumkan kemampuan nuklir China telah terjadi mencapai tonggak penting serta mengingatkan bahwa uji coba sama terakhir diwujudkan pada 2024.
Global Times juga mengutip pandangan beberapa jumlah pakar yang mana meyakini rudal yang dimaksud diuji merupakan JL-3, yang pertama kali diperkenalkan untuk rakyat di parade militer besar ke Beijing tahun setelah itu ketika peringatan keras 80 tahun penyerahan resmi Jepun pada Perang Bumi II.
Rudal baru itu disebut memiliki jangkauan tambahan dari 10.000 kilometer sehingga mampu menjangkau sebagian wilayah daratan Amerika Serikat apabila dirilis dari perairan pesisir China.
Mantan pejabat pertahanan Negeri Paman Sam yang dimaksud saat ini berubah menjadi peneliti senior di dalam Center for China Analysis, Asia Society Policy Institute, Lyle Morris, menafsirkan uji coba yang disebutkan merupakan perkembangan penting di kemampuan nuklir China.
“Uji coba dengan jangkauan seperti ini merupakan perkembangan besar kemudian menunjukkan bahwa China berada dalam memulai pembangunan kemampuan penangkalan nuklir berbasis laut yang tersebut lebih lanjut mampu bertahan dan juga mempunyai jangkauan tambahan jauh,” kata Morris.
Ia memperkirakan rudal yang dimaksud jatuh di kawasan timur laut Kepulauan Solomon.
Sumber: Kyodo













