Beijing –
Pemerintah China menegaskan bahwa uji coba rudal yang tersebut diperkenalkan dari kapal selam nuklir di dalam Samudera Pasifik merupakan bagian dari latihan militer tahunan yang digunakan rutin dilaksanakan, sesuai hukum internasional, juga bukan ditujukan untuk negara maupun sasaran tertentu.
“Ini adalah pengaturan rutin di inisiatif pelatihan militer tahunan China. Hal ini sesuai dengan hukum internasional juga praktik internasional yang digunakan berlaku juga tidaklah ditujukan pada negara atau target tertentu,” kata Juru Bicara Kementerian Luar Negeri China Mao Ning di konferensi pers di dalam Beijing, Hari Senin (6/7).
Mao mengungkapkan negara-negara yang dimaksud berkepentingan sudah pernah menerima pemberitahuan sebelum peluncuran dilakukan.
“Negara-negara yang yang disebutkan telah dilakukan diberitahu sebelum peluncuran. Hal ini sesuai dengan hukum internasional dan juga praktik internasional yang digunakan lazim terlebih seluruh prosesnya dipastikan aman, sesuai standar, juga profesional,” ungkap Mao Ning.
Ia pun berharap negara-negara terkait tidak ada terlalu mempermasalahkannya.
Angkatan Laut China pada Mulai Pekan (6/7) melaksanakan uji coba peluncuran rudal balistik jarak sangat dari salah satu kapal selam bertenaga nuklir ke kawasan Pasifik Selatan.
Kantor berita pemerintah China melaporkan rudal yang digunakan menyebabkan hulu ledak tiruan itu diperkenalkan pada pukul 12.01 waktu setempat serta “mendarat tepat pada perairan yang tersebut ditentukan”, tanpa mengungkapkan tempat kejadian maupun jenis rudal yang tersebut digunakan.
Sejumlah analis memperkirakan China menguji rudal balistik antarbenua (ICBM) JL-2 atau JL-3 dari salah satu kapal selam tipe 094A.
Peluncuran yang dimaksud memicu perhatian Australia, Jepang, lalu Selandia Baru yang menyampaikan kegelisahan mengenai aktivitas militer China pada kawasan Pasifik.
“Negara-negara yang dimaksud telah lama diberitahu sebelum peluncuran. Hal ini sesuai dengan hukum internasional kemudian praktik internasional yang digunakan lazim terlebih seluruh prosesnya dipastikan aman, sesuai standar, kemudian profesional,” ungkap Mao Ning. Ia pun berharap negara-negara terkait tidaklah terlalu mempermasalahkan hal itu.
Uji coba ini menjadi peluncuran rudal dari kapal selam nuklir pertama yang mana dikerjakan Pasukan sepak bola Pembebasan Rakyat China (PLA) sejak 2024. Saat itu, China meluncurkan rudal balistik antarbenua ke perairan dekat Polinesia Prancis di Samudera Pasifik, yang merupakan peluncuran pertama dengan sasaran kawasan yang dimaksud sejak 1980.
Pemerintah Selandia Baru menyatakan bukan menyokong pengaplikasian Pasifik Selatan sebagai lokasi pengujian kemampuan rudal oleh sebab itu kawasan yang disebutkan merupakan Zona Bebas Nuklir Pasifik Selatan.
Zona yang disebutkan dibentuk melalui Perjanjian Rarotonga pada 1986 yang melarang keberadaan senjata nuklir ke seluruh kawasan. China meratifikasi protokol perjanjian yang disebutkan pada 1987 juga berikrar untuk tak melakukan uji coba senjata nuklir maupun mengancam penggunaannya terhadap negara-negara penandatangan yang dimaksud miliki wilayah ke kawasan tersebut.
Peluncuran rudal itu juga berlangsung pada hari yang serupa di mana Australia dan juga Fiji mengesahkan perjanjian pertahanan baru yang tersebut bertujuan meningkatkan kekuatan kerja identik keamanan di kawasan Pasifik.
Sementara itu, Menteri Luar Negeri Australia Penny Wong menganggap peningkatan kemampuan militer China berlangsung sangat cepat juga masih kurang transparan terkait tujuan pengembangannya.
Kementerian Defense Negeri Matahari Terbit juga menyampaikan keprihatinan berhadapan dengan meningkatnya aktivitas militer China. Dalam pernyataannya, Negeri Matahari Terbit mendesak Beijing untuk “mempertimbangkan kembali” pelaksanaan uji coba rudal agar jalur proyektil tak melintasi wilayah Jepun maupun mengakibatkan risiko keamanan lainnya.
Menurut Nuclear Threat Initiative, lembaga kajian yang digunakan berbasis di Washington, China pada waktu ini miliki enam kapal selam pembawa rudal balistik serta 59 kapal selam nuklir.
Sementara itu, pada laporan terbaru untuk Kongres Amerika Serikat yang tersebut dirilis pada akhir 2025, Pentagon memperkirakan China miliki sekitar 600 hulu ledak nuklir pada 2024. Laporan yang disebutkan juga mengatakan PLA berada pada jalur untuk mengoperasikan lebih lanjut dari 1.000 hulu ledak nuklir pada 2030.













