Istanbul – China pada Akhir Pekan (12/7) memaparkan bahwa merekan “dengan tegas” menjunjung tinggi kedaulatan teritorial dan juga hak serta kepentingan maritimnya di Laut China Selatan.
China akan mengambil langkah-langkah “tegas” untuk membela hak serta kepentingannya sebagai tanggapan melawan “pelanggaran juga provokasi” negara-negara tertentu di perairan tersebut.
Kementerian Luar Negeri China menolak pernyataan dengan Jepang, Filipina, AS, Australia, Kanada, Estonia, Jerman, Italia, Latvia, Lithuania, Selandia Baru, Rumania, Slovenia, juga Inggris untuk menandai peringatan keras 10 tahun putusan pengadilan internasional pada Mingguan (12/7).
Pernyataan bersatu itu mengutarakan bahwa klaim maritim China yang dimaksud luas di dalam Laut China Selatan “tidak memiliki dasar hukum.”
Filipina meraih kemenangan persoalan hukum tahun 2016 pada Pengadilan Arbitrase Permanen yang digunakan menyatakan bahwa klaim kedaulatan China ke Laut China Selatan tidak ada miliki dasar hukum internasional. Beijing menolak kebijakan tersebut.
Beijing menyatakan terus teguh di merawat perdamaian juga stabilitas dalam Laut China Selatan, lalu langkah-langkahnya untuk membela hak juga kepentingannya adalah “masuk akal, sah, profesional, serta terkendali.”
Menurut Kementerian Luar Negeri, Amerika Serikat kemudian negara-negara eksternal lainnya secara konsistensi meningkatkan kekuatan peluncuran militer mereka itu dalam Laut China Selatan, menunjukkan pengaruh dia dan juga “memperburuk situasi.”
Tindakan militerisasi lalu pemaksaan itu merupakan tantangan utama terhadap situasi pada waktu ini dalam Laut China Selatan,” tambahnya.
China, kata kementerian itu, tidaklah menerima solusi “yang dipaksakan” terkait permasalahan teritorial lalu sengketa penetapan batas maritim.
“China tak menerima atau mengakui ‘putusan’ yang dimaksud kemudian menentang dan juga tidaklah menerima klaim atau tindakan apa pun yang digunakan didasarkan padanya,” tegas kementerian itu.
“Kedaulatan teritorial juga hak serta kepentingan maritim China dalam Laut China Selatan tak akan berpengaruh oleh putusan yang disebutkan pada keadaan apa pun,” katanya lagi.
Beijing selanjutnya menyatakan tetap berazam untuk menyelesaikan sengketa terkait dalam Laut China Selatan melalui negosiasi kemudian konsultasi dengan negara-negara yang mana secara segera terkait, berdasarkan penghormatan terhadap fakta sejarah dan juga sesuai dengan hukum internasional, sehingga dapat merawat perdamaian lalu stabilitas ke jalur perairan tersebut.
China serta Filipina mempunyai klaim teritorial yang tumpang tindih ke Laut China Selatan, yang dimaksud merupakan salah satu jalur perdagangan tersibuk di dalam dunia, dengan nilai perdagangan tahunan mencapai triliunan dolar.
Sumber: Anadolu











