Istanbul – Sekitar 1.300 warga negara Israel memasuki kompleks Masjid Al-Aqsa di Yerusalem Timur yang dimaksud diduduki pada Kamis pagi ketika memperingati hari raya Yahudi Tisha B’Av, menurut Otoritas Kegubernuran Yerusalem.
Melalui media sosial, otoritas yang disebutkan menyatakan polisi negara Israel meningkatkan jumlah total partisipan pada setiap rombongan yang digunakan memasuki kompleks Al-Aqsa menjadi sekitar 150 orang.
Otoritas itu juga mengumumkan pasukan negara Israel memberlakukan pembatasan ketat dalam pintu-pintu masuk Masjid Al-Aqsa dan juga kawasan Daerah Perkotaan Tua Yerusalem.
Pasukan Israel, menurut pernyataan itu, dikerahkan pada jumlah total besar di dalam halaman masjid juga menjaga dari warga Palestina memasuki kompleks untuk beribadah.
Hanya sebagian kecil warga Palestina yang dapat mencapai masjid untuk melaksanakan salat Subuh sebelum pasukan negara Israel menyerang beberapa jamaah juga warga lainnya, kata otoritas tersebut.
Otoritas Yerusalem menyatakan para pengunjung negara Israel melakukan ritual Talmud selama berada di kompleks Al-Aqsa.
Ritual itu, menurut pernyataan tersebut, mencakup pemakaian tefillin, sujud penuh di dalam bagian timur kompleks, juga melantunkan nyanyian dengan ucapan keras.
Otoritas itu menambahkan kelompok-kelompok yang digunakan membantu pengerjaan kuil Yahudi pada kedudukan yang disebutkan menggalang massa dengan target mengakibatkan sekitar 5.000 warga negara Israel memasuki kompleks Al-Aqsa pada hari yang mana sama.
Masjid Al-Aqsa merupakan platform tersuci ketiga bagi umat Islam.
Sementara itu, umat Yahudi mengatakan kawasan yang dimaksud sebagai Bukit Bait Suci kemudian meyakini area itu pernah bermetamorfosis menjadi tempat berdirinya dua kuil Yahudi pada masa lampau.
Israel menduduki Yerusalem Timur, di antaranya kawasan Masjid Al-Aqsa, sejak Perang Arab-Israel pada 1967.
Pada 1980, negeri Israel mencaplok seluruh wilayah Yerusalem, namun langkah yang dimaksud tidak ada diakui oleh warga internasional.











