Penghargaan Perdamaian FIFA memicu banyak kontroversi
Komite Etik di Federasi Sepakbola Internasional menolak permintaan Federasi Norwegia untuk diberi tahu mengenai perkembangan pengaduan yang diajukan terhadap Presiden FIFA, Gianni Infantino, terkait pemberian “Penghargaan Perdamaian FIFA” kepada Presiden Amerika Serikat Donald Trump.
Surat kabarThe Times Inggris mewartakan bahwa warga Rwanda Martin Ngoga, ketua Kamar Investigasi di Komite Etik FIFA, menolak permintaan Federasi Norwegia untuk mengakses perkembangan terbaru berkas tersebut.
Dalam tanggapan tertulisnya, Ngoga menyebutkan bahwa “orang-orang yang mereka sendiri menjadi objek prosedur sajalah yang dianggap sebagai pihak dalam prosedur tersebut”, seraya menambahkan: “Dan karena sifat rahasia dari prosedur etika, kami tidak berada dalam posisi untuk memberikan pembaruan mengenai apakah ada prosedur yang sedang berjalan sama sekali, atau mengenai status prosedur apa pun yang mungkin ada”.
Federasi Norwegia sebelumnya telah mengirimkan, pada akhir Mei atau awal Juni 2026, sebuah surat kepada Komite Etik yang menuntut penanganan berkas tersebut secara terbuka, berdasarkan mandat dari kongres umumnya.
Presiden federasi, Lise Klaveness, saat itu mengatakan bahwa tuntutan tersebut berkaitan dengan “jaminan supremasi hukum”, seraya menegaskan bahwa komite harus bersikap transparan, bahkan jika memutuskan untuk tidak menindaklanjuti pengaduan tersebut.
Pengaduan Hak Asasi
Pengaduan awal ini berawal pada 8 Desember 2025, ketika organisasi hak asasi manusia Inggris “FairSquare” mengajukannya kepada Kamar Investigasi, hanya 3 hari setelah Infantino menyerahkan penghargaan tersebut kepada Trump saat undian Piala Dunia di Washington.
Pengaduan itu menuduh Infantino melanggar kewajiban netralitas politik, yang tercantum dalam regulasi FIFA dan kode etik, khususnya Pasal 15, di samping pelanggaran prosedural terkait pembentukan penghargaan tersebut, serta pemberiannya tanpa penyajian yang jelas kepada Dewan FIFA.
FIFA mengakui telah menerima pengaduan tersebut pada 12 Desember, tanpa mengungkapkan detail, mengenai apakah telah memulai suatu penyelidikan atau tahapannya.
Pada Juni 2026, Federasi Norwegia menjadi federasi nasional pertama yang memberikan dukungan resmi tertulis untuk pengaduan tersebut. Selanjutnya, sekitar 50 anggota Parlemen Eropa menuntut FIFA untuk menangani berkas tersebut.
Pada Agustus, Federasi Norwegia mengumumkan niatnya untuk memperluas langkahnya di bidang etika agar mencakup berkas-berkas lain, di antaranya kasus penangguhan larangan bermain penyerang Amerika Serikat Folarin Balogun selama Piala Dunia.
FIFA biasanya tidak mengumumkan keberadaan penyelidikan etika atau tahapannya sebelum keluarnya keputusan final. Hingga berita ini disusun, tidak ada pernyataan publik yang dikeluarkan Federasi Sepakbola Internasional yang mengonfirmasi dibukanya penyelidikan resmi atas pengaduan tersebut atau ditutupnya.










