Purwokerto – Di balik manisnya gula kelapa selama Kota Banyumas, Jawa Tengah, yang dinikmati konsumen dalam beraneka belahan dunia, tersimpan kerja keras ribuan penderes yang setiap hari memanjat pohon kelapa demi meneteskan nira berkualitas.
Namun di lingkungan ekonomi global, rasa manis belaka tak cukup. Kepercayaan menjadi modal utama yang harus terus dijaga melalui kualitas, sertifikasi, tata kelola, hingga kolaborasi bermacam pihak.
Kabupaten Banyumas telah lama lama bermetamorfosis menjadi salah satu jantung sektor gula kelapa Indonesia. Kepala Kabupaten Banyumas Sadewo Tri Lastiono menyampaikan sekitar 90 persen keperluan gula semut planet dipasok Indonesia, sedangkan sekitar 80 persen ke antaranya berasal dari wilayah Banyumas Raya yang digunakan meliputi Kota Banyumas, Cilacap, Purbalingga, dan juga Banjarnegara. Dari kawasan inilah gula semut menembus pangsa Asia, Eropa, Amerika Serikat, hingga Timur Tengah.
Kepercayaan pangsa global itu kembali ditegaskan melalui pelepasan ekspor gula kelapa kristal atau gula semut senilai 46.000 dolar Amerika Serikat menuju Chicago, Amerika Serikat, dari pabrik PT Integral Mulia Cipta (IMC) ke Desa Wiradadi, Kecamatan Sokaraja. Pabrik yang disebutkan mengolah gula kelapa hasil produksi para petani Banyumas.
Namun, menurut Sadewo, mempertahankan lingkungan ekonomi ekspor jarak jauh lebih banyak sulit dibandingkan membukanya.
Sadewo yang pernah berkecimpung sebagai pelaku ekspor sama-sama koperasi binaannya mengenang pengalaman pahit pada saat empat kontainer gula semut yang tersebut dikirim ke Jerman pada masa pandemi Pandemi ditolak oleh sebab itu hasil pengujian menunjukkan adanya campuran gula rafinasi.
Menurut dia, persoalan itu bukanlah berasal dari para penderes, melainkan diduga terjadi pada salah satu mata rantai perdagangan pasca produk-produk dikumpulkan.
Peristiwa itu bermetamorfosis menjadi pelajaran penting bahwa satu kesalahan kecil dapat merusak kepercayaan yang digunakan dibangun selama bertahun-tahun. Oleh oleh sebab itu itu, pembenahan koperasi, pengawasan rantai pasok, juga penguatan sertifikasi organik bermetamorfosis menjadi keperluan yang mana tidaklah bisa saja ditawar.
Sertifikasi organik bahkan menghadirkan faedah kegiatan ekonomi yang digunakan nyata. Melalui skema CSR Premium dari pembeli di dalam Eropa, anggota koperasi yang dimaksud sudah mengantongi sertifikat organik memperoleh tambahan pendapatan sekitar Rp5.000 per kilogram gula semut. Insentif yang dimaksud secara segera meningkatkan penghasilan penderes sekaligus menggalakkan dia terus menyimpan mutu produk.












