DKI Jakarta – Kementerian Luar Negeri (Kemlu) RI menyatakan sudah menindaklanjuti informasi dugaan penyanderaan dua WNI perempuan di Myanmar lalu terus mengupayakan penyelamatan mereka itu melalui koordinasi intensif KBRI Yangon dengan otoritas setempat.
Disampaikan Direktur Pelindungan WNI Kemlu RI Heni Hamidah, pasca menerima laporan awal pada 15 Juli, KBRI Yangon telah dilakukan melakukan penelusuran awal, satu di antaranya berbicara dengan pihak keluarga dalam Indonesi juga sumber pada lapangan.
“Sebagai langkah lanjut, pada 16 Juli, KBRI Yangon telah terjadi menyampaikan nota diplomatik untuk Kemlu Myanmar guna mengajukan permohonan bantuan penelusuran lalu konfirmasi keberadaan kedua WNI,” kata Heni merespons pertanyaan wartawan secara ditulis di dalam Jakarta, Senin.
Dalam upaya tersebut, KBRI Yangon sudah pernah melampirkan salinan paspor kedua WNI yang disebutkan sebagai dokumen identitas yang tersedia sebagai rujukan.
Heni menambahkan bahwa berdasarkan informasi yang tersebut diperoleh, KBRI Yangon sudah menerima indikasi awal mengenai posisi keberadaan kedua WNI berinisial AE dan juga S yang tersebut disebut disandera dengan tuntutan tebusan sebesar Rp200 jt itu.
KBRI Yangon juga terus berkoordinasi dengan beragam pihak dalam Myanmar untuk memperoleh informasi tambahan lanjut juga menyiapkan langkah-langkah penyelamatan apabila keberadaan juga keadaan keduanya berhasil dikonfirmasi hingga ditemukan, kata Direktur PWNI Kemlu.
Direktorat PWNI Kemlu akan terus berbicara dengan keluarga kedua WNI untuk memperoleh informasi tambahan lanjut yang dapat menyokong proses penelusuran, kata dia.
“Kemlu RI akan terus berkoordinasi dengan otoritas Myanmar juga kementerian atau lembaga terkait dalam Indonesia sepanjang tahapan berjalan,” ucap Heni.
Lebih lanjut, Heni mengutarakan bahwa tindakan hukum ini kembali berubah jadi pengingat akan tingginya risiko yang dimaksud dihadapi WNI yang tersebut bekerja secara non-prosedural ke kawasan Asia Tenggara, terlebih lagi pada sektor penipuan serta judi daring.
Ia pun kembali mengingatkan agar penduduk tak sederhana tergiur tawaran pekerjaan pada luar negeri yang menjanjikan penghasilan terlampau lebih tinggi tanpa melalui mekanisme penempatan resmi. Warga diimbau kritis pada menerima tawaran pekerjaan untuk mengurangi berubah jadi orang yang terdampar penipuan, ucap dia.
Adapun perkara ini mengemuka setelahnya beredarnya sebuah video beberapa waktu setelah itu yang memperlihatkan dua perempuan, pada kondisi tangan terikat, mengaku disekap ke Myanmar serta mengajukan permohonan tolong dipulangkan ke tanah air.
Dalam video itu, mereka itu menyampaikan diberi waktu beberapa hari untuk membayar tebusan hingga banyak jt rupiah agar bisa jadi bebas.














