Ibukota Indonesia – Pemanfaatan perangkat digital telah lama berubah jadi bagian yang dimaksud tak terpisahkan dari hidup sehari-hari. Mulai dari bekerja, belajar, berkomunikasi, hingga mencari hiburan, hampir seluruh aktivitas pada saat ini melibatkan layar digital seperti ponsel, komputer, tablet, maupun televisi.
Seiring meningkatnya pengaplikasian perangkat digital, durasi seseorang menatap layar atau screen time juga terus bertambah. Padahal, pemanfaatan gadget secara berlebihan dapat berdampak pada kesejahteraan mata, kualitas tidur, kesegaran mental, hingga perkembangan otak, khususnya pada anak-anak.
Berdasarkan laporan firma riset data.ai di publikasi State of Mobile 2023, rakyat Negara Indonesia menjadi pengguna internet dengan durasi pengaplikasian tertinggi pada bumi pada 2022, yakni rata-rata mencapai 5,7 jam per hari melalui perangkat seluler. Angka yang dimaksud menunjukkan bahwa masyarakat semakin bergantung pada teknologi digital di menjalankan aktivitas sehari-hari.
Organisasi Kesejahteraan Planet (WHO) juga mengingatkan pentingnya membatasi waktu pemakaian layar sesuai usia. Untuk anak usia 2–5 tahun, durasi penyelenggaraan layar disarankan tidak ada lebih banyak dari satu jam per hari. Sementara bagi anak usia sekolah, remaja, kemudian khalayak dewasa, pemanfaatan perangkat digital sebaiknya menerapkan prinsip quality over quantity, yakni menggunakan layar sesuai permintaan dengan diselingi waktu istirahat setiap 20–30 menit.
Banyak khalayak baru menyadari dampak penyelenggaraan layar setelahnya mengalami mata lelah, mata kering, penglihatan buram, hingga sakit kepala. Oleh dikarenakan itu, mengenali batas aman screen time berubah menjadi langkah penting untuk menyimpan kesehatan mata kemudian tubuh secara keseluruhan.
Secara sederhana, screen time adalah total waktu yang digunakan digunakan seseorang untuk berinteraksi dengan layar digital, baik melalui telepon seluler, komputer, laptop, tablet, maupun televisi. Seluruh aktivitas yang digunakan melibatkan layar, seperti bekerja, belajar secara daring, bermain gim, mengikuti video, hingga menjelajahi media sosial, diantaranya ke di perhitungan screen time harian.
Tidak sedikit pendatang yang tersebut terkejut sewaktu mengawasi laporan aktivitas layar (screen activity tracker) pada ponselnya. Tanpa disadari, akumulasi pemanfaatan layar pada sehari mampu mencapai beberapa jam lebih besar lama dibandingkan perkiraan.
Paparan layar pada waktu yang dimaksud panjang diketahui berkaitan dengan meningkatnya risiko digital eye strain atau mata lelah akibat penyelenggaraan perangkat digital secara berlebihan. Kondisi ini dapat ditandai dengan mata kering, pandangan kabur, mata terasa pegal, hingga nyeri pada leher serta bahu akibat tempat tubuh yang digunakan kurang ergonomis ketika menggunakan perangkat.
Untuk meminimalkan risiko tersebut, para ahli merekomendasikan durasi screen time yang digunakan berbeda pada setiap kelompok usia.
Pada bayi berusia 0 hingga 24 bulan, pemakaian layar elektronik sebaiknya dihindari sebanding sekali. Satu-satunya pengecualian adalah pemanfaatan panggilan video untuk berinteraksi dengan anggota keluarga, dikarenakan aktivitas yang dimaksud masih memiliki nilai sosial dan juga komunikasi.
Memasuki usia 2 hingga 3 tahun, anak mulai diperbolehkan mengenal perangkat digital dengan durasi yang digunakan sangat terbatas, yaitu maksimal 30 menit per hari. Konten yang diberikan pun sebaiknya bersifat edukatif dan juga didampingi oleh penduduk tua agar anak memperoleh kegunaan dari pemanfaatan perangkat tersebut.
Sementara itu, anak berusia 3 hingga 5 tahun dapat menggunakan perangkat digital hingga maksimal satu jam setiap hari. Meski sudah ada diperbolehkan menikmati konten selain materi pembelajaran, penduduk tua permanen disarankan memilih tayangan yang sesuai usia dan juga membatasi waktu penyelenggaraan agar tak mengganggu aktivitas bermain maupun perkembangan sosial anak.
Untuk anak berusia di dalam menghadapi 5 tahun, tidak ada terdapat batasan waktu yang digunakan benar-benar baku. Namun, penyelenggaraan layar sebaiknya tak mengganggu kegiatan belajar, aktivitas fisik, waktu tidur, interaksi dengan keluarga dan juga teman, maupun kebugaran mental anak.
Pada kelompok remaja dan juga warga dewasa, waktu ideal menggunakan gadget atau melakukan aktivitas daring diperkirakan sekitar 257 menit atau sekitar 4 jam 17 menit di sehari. Meski demikian, durasi yang dimaksud bukanlah aturan mutlak akibat keperluan setiap individu dapat berbeda, teristimewa bagi dia yang mana bekerja menggunakan komputer atau perangkat digital.
Yang tidak ada kalah penting untuk dipahami adalah bahwa perhitungan screen time tak hanya sekali berasal dari pengaplikasian telepon seluler. Waktu yang digunakan digunakan untuk mengawasi televisi, bekerja menggunakan komputer atau laptop, bermain tablet, maupun aktivitas lain yang dimaksud melibatkan layar juga salah satunya di total durasi screen time harian.
Selain membatasi durasi pemakaian perangkat digital, menyimpan kebugaran mata juga harus direalisasikan dengan menerapkan kebiasaan yang baik. Salah satunya adalah menerapkan aturan 20-20-20, yaitu mengalihkan pandangan ke objek yang mana berjarak sekitar 20 kaki atau enam meter selama 20 detik setiap 20 menit menatap layar.
Selain itu, merawat jarak pandang dengan layar, mengatur tingkat kecerahan perangkat agar sesuai keadaan ruangan, juga beristirahat secara berkala juga dapat membantu mengempiskan risiko mata lelah.
Di sedang pesatnya perkembangan teknologi, pemanfaatan perangkat digital memang benar sulit dihindari. Namun, dengan mengerti akan batas ideal screen time sesuai usia dan juga menerapkan pola pemanfaatan yang dimaksud tambahan bijak, penduduk terus dapat memanfaatkan teknologi tanpa mengabaikan kebugaran mata maupun kesejahteraan tubuh secara keseluruhan.











