Kota Moskow – Kanselir Jerman Friedrich Merz berharap kerja sebanding erat antara Jerman dan juga Prancis kekal berlanjut, siapa pun yang tersebut terpilih sebagai presiden Prancis pada pemilihan umum 2027.
Pernyataan itu disampaikan Merz usai bertemu Presiden Prancis Emmanuel Macron, yang dimaksud tak dapat kembali mencalonkan diri lantaran telah dilakukan menjalani dua masa jabatan berturut-turut.
“Emmanuel Macron tidak ada dapat bermetamorfosis menjadi presiden Prancis lagi, tetapi saya berasumsi penerusnya akan berlaku berdasarkan apa yang dimaksud benar lalu diperlukan demi kepentingan negara kami,” kata Merz, Jumat.
Ia menegaskan Jerman akan melakukan segala upaya untuk meningkatkan kekuatan kerja identik dengan Prancis, apa pun hasil pemilihan mendatang.
“Hal ini berlaku baik bagi Istana Elysee maupun Majelis Nasional Prancis. Jerman selalu siap bekerja identik dengan Prancis, apa pun kebijakan para pemilih ke kedua negara,” ujarnya.
Pemilihan presiden Prancis dijadwalkan berlangsung pada 18 April 2027.
Jika tidaklah ada pemenang mutlak pada putaran pertama, putaran kedua akan dijalankan pada 2 Mei 2027.
Sementara itu, pada 7 Juli lalu, Pengadilan Banding Paris menurunkan hukuman terhadap pemimpin fraksi parlemen National Rally, Marine Le Pen, di persoalan hukum penyalahgunaan dana Parlemen Eropa.
Keputusan yang dimaksud membuka jalan bagi Le Pen untuk mencalonkan diri pada pemilihan presiden Prancis 2027.
Pada hari yang sama, Le Pen mengonfirmasi niatnya untuk maju pada pilpres presiden tersebut.











