Ibukota Indonesia – Pernah terpikir apakah otak manusia akan tumpul dikarenakan terlalu kerap menggunakan artificial intelligence (AI). Apa cuma dibuat dengan AI, bahkan mau makan apa hari ini juga bertanya ke AI.
Hampir setiap hari umum disuguhi kabar mengenai kemampuan Teknologi AI yang digunakan semakin canggih, mulai dari membantu diagnosis penyakit, mempercepat riset ilmiah, meningkatkan efisiensi industri, hingga menciptakan karya kreatif pada hitungan detik.
Di sisi lain, muncul pula kegelisahan bahwa euforia yang disebutkan sudah pernah berprogres terlalu sangat jauh sehingga memunculkan fenomena baru bernama AI Bubble.
Perdebatan ini mengemuka pada The Big Idea Diskusi bertajuk “AI Forward 2026: What’s Next for AI?” yang digunakan diselenggarakan CNN Indonesia, pada saat Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan juga Teknologi Prof. Stella Christie mengangkat kemungkinan terjadinya AI Bubble sebagai salah satu topik utama diskusi.
Pandangan itu layaknya mengingatkan bahwa perkembangan teknologi memang benar diperlukan untuk selalu dikritisi. Prof. Stella meminta rakyat belajar dari bervariasi fenomena sejarah, mulai dari Tulip Bubble hingga Dot-com Bubble, agar tak mengalami keterhambatan di keyakinan bahwa Artificial Intelligence dapat bermetamorfosis menjadi solusi bagi seluruh persoalan.
Ia juga menekankan pentingnya kurasi, yakni kemampuan memilih secara bijaksana kapan Kecerdasan Buatan benar-benar dibutuhkan dan juga kapan sebuah persoalan justru lebih banyak efektif diselesaikan tanpa teknologi tersebut.
Hal ini mengingatkan semua pihak bahwa pembaharuan seharusnya lahir dari keperluan nyata, bukanlah sekadar mengikuti tren.
Fenomena yang tersebut sekarang dikenal sebagai AI Washing memang benar semakin mudah-mudahan ditemukan. Banyak komoditas yang tersebut sesungguhnya tidak ada mengalami pembaharuan mendasar, tetapi diberi label Teknologi AI demi menawan perhatian pasar.
Tidak sedikit organisasi yang digunakan berlomba mengadopsi Kecerdasan Buatan tanpa terlebih dahulu mengidentifikasi kesulitan yang mana hendak diselesaikan.
Dalam keadaan seperti itu, kurasi menjadi penting agar pembangunan ekonomi teknologi memunculkan faedah yang sepadan dengan biaya kemudian sumber daya yang dikeluarkan.











