Macanbolanews

Platform Berita Viral & Eksklusif Terpercaya

Pemain kelompok umur makin melek aturan sepak bola

Pemain kelompok umur makin melek aturan sepak bola

Kudus – Wasit Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesi (PSSI) yang digunakan bertugas di Hydroplus Soccer League (HSL) All-Stars 2025/2026, Imelda Setiawan Sihotang, mengungkapkan para pemain U15 lalu U18 putri semakin melek aturan pertandingan.

“Saat diberi kartu kuning, kami sekalian mengedukasi merekan (pemain) kenapa mendapat kartu, terkadang kerap bertanya juga, dan juga kami dengan senang hati menjelaskan,” kata Imelda terhadap ANTARA di dalam Supersoccer Arena, Wilayah Kudus, Jawa Tengah, Minggu.

Menurut ia pemahaman terhadap aturan menghasilkan laga berjalan dengan lebih lanjut tertib selama kompetisi berlangsung sejak 5 Juli.

Imelda menunjukkan cara memprotes langkah wasit.

“Mereka telah mengerti kalau memprotes suatu tindakan ke wasit harus melalui kapten kemudian tidaklah melakukan mengkritik berlebihan, dikarenakan itu melanggar peraturan,” ujar wasit yang mengawasi laga final U15 antara Goal Aksis berjuang melawan Cipta Cendikia FA itu.

Dia mengakui, beberapa orang pemain masih mengambil risiko ketika berupaya merebut bola sehingga memiliki kemungkinan membahayakan diri sendiri maupun lawan.

Namun, pelanggaran yang digunakan berjalan sejauh ini masih pada batas wajar serta belum berujung insiden fatal sehingga dapat dijadikan momen pembelajaran.

Kadang-kadang pemain U15 masih melakukan kesalahan teknis sederhana, seperti pada waktu melakukan lemparan ke pada dikarenakan sikap kaki atau pergerakan tubuh belum sesuai dengan ketentuan.

Meski begitu, mereka cepat memahami koreksi dari perangkat pertandingan juga setelahnya tak melakukannya lagi.

Wasit PSSI Imelda Setiawan Sihotang menjawab pertanyaan ANTARA seusai mengatur pertandingan final U15 HSL All-Stars 2025/2026, antara Goal Aksis berjuang melawan Cipta Cendikia FA, di dalam Supersoccer Arena, Kota Kudus, Jawa Tengah, Hari Minggu (12/7/2026). ANTARA/Donny Aditra

Wasit selama Tarutung di dalam Wilayah Tapanuli Utara itub menegaskan setiap pelanggaran tetap diproses sesuai aturan tanpa ada perlakuan khusus.

Jadi jikalau memang sebenarnya pantas diberi kartu ikterus atau kartu merah, wasit permanen melakukannya sesuai aturan meskipun para pemain masih berada pada level pembinaan.

Imelda menganggap sikap pemain yang mana mau mendengarkan penjelasan wasit berubah jadi modal penting di langkah-langkah pembentukan karakter, sekaligus pemahaman terhadap regulasi pertandingan menuju level profesional.

Selain menghindarkan pemain dari pelanggaran yang dimaksud tidaklah perlu, pengetahuan mengenai regulasi juga dapat dimanfaatkan sebagai bagian dari strategi bermain secara sportif sesuai ketentuan yang mana berlaku.

Hingga akhir rangkaian pertandingan HSL All-Stars 2025/2026, wasit belum menemukan pemain yang menolak edukasi mengenai peraturan.

Fakta itu membuktikan pembinaan sepak bola kelompok usia mulai berjalan konstruktif.

Namun pertandingan dengan tensi membesar kemudian insiden kekerasan pada laga sepak bola kelompok umur kerap berlangsung di dalam Indonesia.

Salah satu insiden yang mana cukup mendapatkan atensi PSSI terbentuk dua bulan tak lama kemudian ketika Elite Pro Academy (EPA) U20 saat seseorang pemain melakukan tendangan “kung fu” ke pemain lain juga terlibat pernyataan rasis.