Paris – Kapal induk Prancis Charles de Gaulle kembali ke pelabuhan asalnya di dalam Toulon dari Timur Tengah, demikian diinformasikan Presiden Prancis Emmanuel Macron melalui sistem media sosial X, Jumat.
Kapal induk yang dimaksud telah dilakukan dikerahkan ke kawasan itu sebagai persiapan untuk misi keamanan maritim multinasional yang tersebut dipimpin Prancis dan juga Inggris dalam Selat Hormuz.
Macron memaparkan di unggahannya di dalam X bahwa nota kesepahaman (memorandum of understanding/MoU) yang mana baru-baru ini ditandatangani antara Amerika Serikat (AS) juga Iran merupakan “kemajuan signifikan” bagi stabilitas kawasan, sehingga menggerakkan Prancis menyesuaikan kehadirannya pada Timur Tengah.
Namun, Macron menambahkan bahwa aset-aset penyapu ranjau Prancis beserta aset pengawalan mereka itu akan terus berada pada tempat kemudian siap melaksanakan operasi sama-sama para mitra.
Kapal induk Charles de Gaulle pada waktu ini berada dalam Laut Mediterania, menurut laporan media Prancis yang dimaksud mengutip kantor kepresidenan negara itu.
Prancis lalu Inggris pada pertengahan April mengumumkan bahwa mereka akan menjadi pemimpin misi pengawalan multinasional yang dimaksud bersifat defensif ke Selat Hormuz. Prancis mengerahkan kapal induk yang dimaksud ke Timur Tengah pada Mei untuk mempersiapkan peluncuran resmi operasi itu setelahnya konflik berakhir.
AS serta Iran mencapai kesepakatan mengenai MoU yang disebutkan pada 14 Juni. Sehari kemudian, Macron memaparkan bahwa Charles de Gaulle dapat tiba ke Selat Hormuz di waktu dua hingga tiga hari pada kerangka kerja misi pengawalan itu apabila situasi memungkinkan.













