Istanbul – Menteri Luar Negeri Amerika Serikat Marco Rubio menuduh Iran berupaya menjadikan Selat Hormuz sebagai alat tawar-menawar dalam berada dalam konflik yang digunakan masih berlangsung ke Timur Tengah.
“Sangat jelas bahwa Iran, setidaknya sebagian pihak di negara itu, ingin menguasai Selat Hormuz dan juga menjadikannya sebagai alat tekan terhadap dunia,” kata Rubio terhadap wartawan sebelum bertolak ke Filipina untuk hadir di pertarungan para menteri luar negeri ASEAN, Minggu.
Rubio menyimpulkan banyak pihak di Iran ingin memanfaatkan kendali menghadapi jalur pelayaran strategis yang disebutkan sebagai alat pengaruh terhadap komunitas internasional.
Ia mengemukakan Amerika Serikat akan terus mengambil langkah yang mana diperlukan untuk melindungi keamanan pelayaran global. Namun, menurut Rubio, negara-negara lain juga penting berkontribusi, baik melalui dukungan pendanaan maupun kemampuan militer.
“Amerika Serikat akan terus melakukan apa yang diperlukan untuk melindungi pelayaran global, tetapi negara-negara lain juga harus meningkatkan partisipasi mereka, baik terdiri dari peralatan maupun dukungan keuangan, untuk membantu memikul tanggung jawab itu,” ujarnya.
Meski demikian, menurut Rubio, Washington terus terbuka untuk mencapai penyelesaian diplomatik dengan Iran.
Namun, ia memberi peringatan bahwa apabila jalur diplomasi gagal, situasi bukan akan menguntungkan bagi Teheran.
Menurut Rubio, pemerintah Iran sudah pernah mengirimkan sinyal bahwa merekan ingin kembali berdialog dengan Amerika Serikat.
Sementara itu, mengenai tewasnya manusia tentara Amerika Serikat pada Irak pada Sabtu, Rubio menyatakan insiden itu merupakan kecelakaan pada waktu serangkaian peledakan terkendali terhadap substansi peledak yang dimaksud belum meledak dari sebuah drone Iran yang dimaksud telah dilakukan dijatuhkan.
Rubio juga memaparkan satu rudal Iran berhasil menembus sistem pertahanan udara Yordania pada hari terakhir pekan walau sebagian besar rudal lainnya berhasil dicegat.
Ia menambahkan bahwa pasukan Amerika Serikat melancarkan serangan ke Iran sebagai respons melawan peluncuran rudal kemudian drone yang, menurut Washington, memiliki target kapal-kapal komersial.














