Kota Moskow – Iran kemungkinan telah terjadi mengirimkan sekitar 70 jt barel minyak senilai lima hingga enam miliar dolar Amerika Serikat (sekitar Rp89,7-107,7 triliun) selama kurang lebih banyak satu bulan masa gencatan senjata dengan Amerika Serikat kemudian pencabutan blokade laut terhadap pelabuhan-pelabuhannya.
Menurut The Wall Street Journal, mengutip para analis serta data dari organisasi nirlaba United Against Nuclear Iran (UANI), Minggu, pelanggan minyak itu memungkinkan Teheran mendirikan cadangan devisa yang berharga sebelum Washington kembali memberlakukan beragam pembatasan.
Pada Juni lalu, Komando Pusat Amerika Serikat (US Central Command) memaparkan pasukan AS, menghadapi perintah Presiden Donald Trump, telah dilakukan mencabut blokade laut terhadap pelabuhan serta wilayah pesisir Iran.
Tak lama kemudian, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi mengutarakan Amerika Serikat sudah mencabut pembatasan ekspor minyak Iran, mencairkan sebagian aset Iran yang tersebut sebelumnya dibekukan, juga meluncurkan rencana pemulihan dunia usaha negara itu.
Lalu pada Juli, Trump mengemukakan beliau tidaklah menyesali langkah mencabut blokade laut tersebut, seraya memaparkan Washington memberikan kesempatan untuk Teheran untuk mencapai sebuah kesepakatan.
Pada waktu malam 18 Juni, Teheran dan juga Washington mengesahkan sebuah memorandum yang mana menyerukan penghentian konflik yang tersebut dipicu oleh agresi militer Amerika Serikat bersatu negara Israel pada 28 Februari. Namun, militer Amerika Serikat dilaporkan kembali melancarkan beberapa serangan terhadap Iran sejak 8 Juli.
Militer Iran kemudian membalas dengan menyerang beberapa jumlah pangkalan militer Amerika Serikat dalam beberapa negara ke Timur Tengah. Teheran juga menuduh Washington sudah melanggar perjanjian gencatan senjata. Pada 9 Juli, Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyatakan bahwa gencatan senjata yang disebutkan tidak ada lagi berlaku.
Sumber: Sputnik/RIA Novosti











