Tokyo – Amerika Serikat pada Mulai Pekan menyatakan kekhawatirannya melawan uji coba tembak rudal balistik jarak sangat jauh dari kapal selam bertenaga nuklir oleh China.
“Di ketika Amerika Serikat bekerja lebih banyak keras dari sebelumnya untuk mengurangi proliferasi nuklir, China justru melakukan hal yang digunakan sebaliknya,” kata Departemen Luar Negeri Amerika Serikat di sebuah pernyataan, menanggapi peluncuran pada hari Awal Minggu tersebut.
“Peningkatan senjata nuklir Beijing yang dimaksud cepat kemudian tidaklah transparan berubah menjadi perhatian besar bagi kawasan serta dunia,” lanjut pernyataan itu.
Sebelumnya, China menyatakan telah lama berhasil melakukan uji coba tembak rudal ke arah Pasifik, Hal yang tersebut memulai kegelisahan dari Negeri Matahari Terbit juga beberapa negara lain pada kawasan.
Menurut kantor berita resmi China Xinhua, sebuah rudal strategis yang mana mengakibatkan hulu ledak tiruan diresmikan dari kapal selam nuklir Angkatan Laut Tentara Pembebasan Rakyat menuju laut lepas Samudra Pasifik pada pukul 12:01 siang, lalu mendarat tepat pada perairan yang tersebut sudah pernah ditentukan.
China juga memberitahu Penjaga Pantai Negeri Matahari Terbit mengenai kemungkinan titik jatuhnya puing-puing rudal dalam wilayah Laut yang mana mencakup zona dunia usaha eksklusif (ZEE) Negeri Sakura di dalam Pasifik selatan prefektur Wakayama bagian barat.
Setelah mendapat informasi dari China sekitar pukul 11:30 pagi tentang peluncuran rudal balistik, Negeri Sakura menyampaikan keprihatinan seriusnya tentang peningkatan aktivitas militer serta menuntut “pertimbangan ulang” melawan penembakan yang dimaksud agar tiada mengancam keamanan Jepang, kata pemerintah Jepang.
Meski tiada ada kerusakan pada pesawat atau kapal Jepun yang digunakan dilaporkan, Sekretaris Kabinet Utama Kihara menyatakan keprihatinannya melawan peluncuran yang disebutkan kemudian berjanji bahwa negaranya akan kekal waspada.
Ia juga mengoreksi China lantaran “terus meningkatkan pengeluaran pertahanannya pada jumlah agregat besar tanpa transparansi yang mana memadai serta memperluas kemampuan rudal nuklirnya, salah satunya rudal balistik antarbenua, dengan cepat serta luas.”
Selain Jepang, China juga memberitahu Australia mengenai uji coba peluncuran yang disebutkan yang digunakan disebut Menteri Luar Negeri Penny Wong sebagai “Hal yang menyebabkan ketidakstabilan pada kawasan”.
Sementara itu, Menteri Luar Negeri Selandia Baru Winston Peters mengungkapkan negaranya, yang digunakan juga sudah diberitahu, “sangat prihatin” berhadapan dengan peluncuran senjata berkemampuan nuklir tersebut, lalu mengutarakan hal itu tampaknya merupakan “pola berulang oleh China” pasca uji tembak rudal balistik antarbenua ke Pasifik Selatan pada 2024.
Juru bicara Kementerian Luar Negeri China, Mao Ning, menyatakan di konferensi pers dalam Beijing bahwa uji coba rudal yang dimaksud merupakan pengaturan “rutin” dari pelatihan militer tahunan China dan juga dijalankan “sesuai dengan hukum juga praktik internasional.”
“Kami berharap negara-negara terkait tak akan menafsirkannya secara berlebihan,” kata Mao, seraya mencatatkan bahwa uji coba yang disebutkan tiada ditujukan terhadap negara tertentu.













