Ibukota Indonesia – Pria berinisial MY (34), terdakwa teror bom pada SDN Srengseng Sawah 15 Pagi, diketahui tidaklah mempunyai pekerjaan terus dan juga terlilit utang dari pinjaman online (pinjol), koperasi, hingga bank keliling.
Kondisi yang dimaksud menciptakan pelaku kerap didatangi penagih utang, menurut keterang Ketua RT 03/RW 04 Gang Kidan, Srengseng Sawah, Jagakarsa, Ibukota Selatan, Anton Sianipar.
“Ada laporan ke JAKI terkait maraknya pinjol di lingkungan RT saya, gitu. Sehingga dari pihak kelurahan menegur saya untuk memberantas itu. Nah, sebenarnya setelahnya kejadian ini kita telusuri ternyata yang dimaksud melakukan laporan JAKI terkait pinjol ya beliau sendiri. Karena beliau berbagai terjerat pinjol, gitu,” kata Ketua RT 03/RW 04 Anton Sianipar pada waktu ditemui dalam Jagakarsa, Ibukota Selatan, Rabu.
Anton mengemukakan bukan tahu pasti berapa total jeratan pinjol yang harus dibayar MY. Namun, warga merasa resah lantaran banyaknya penagih hutang (debt collector) yang menuju ke lingkungan sekitar rumah.
Terlebih, sebagai ketua RT, Anton juga merasa cemas lingkungannya berubah menjadi terganggu mengingat pelaku juga miliki berbagai utang dari koperasi dan juga bank keliling.
“Saya sebagai RT kan mengawasi setiap keseharian warga saya, gitu. Yang saya tahu sih ya ia ada permasalahan dari sisi keuangan, gitu,” katanya.
Lebih lanjut, Anton menambahkan MY tak mempunyai pekerjaan terus sehingga bukan memiliki penghasilan untuk diberikan ke keluarga.
“Pelaku ini tiada punya pekerjaan tetap, cuma terkadang bergabung penduduk tuanya sebagai jasa servis AC. Kadang-kadang mengambil bagian warga tuanya untuk bergabung bantu-bantu servis AC, cuci AC,” katanya.
Polisi menetapkan pria berinisial MY (34) sebagai terdakwa di perkara teror bom pada hari pertama Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) ke SDN Srengseng Sawah 15 Pagi, pada Awal Minggu (13/7).
Menurut dia, pelaku MY dikenakan Pasal 601 KUHP terkait ancaman teror.
Diketahui, dari hasil penyidikan sementara MY melakukan aksinya oleh sebab itu iseng, namun hal yang disebutkan masih didalami lebih banyak lanjut.
Dikatakan MY juga pernah mengirimkan arahan ancaman sejenis ke ketua RT tempatnya tinggal. Namun, ketika itu Ketua RT segera mengundang MY untuk berkomunikasi.
Sebelumnya, kepolisian mengungkap teror bom di dalam SDN Srengseng Sawah 15 Pagi, Jagakarsa, Ibukota Indonesia Selatan, Mulai Pekan (13/7), berawal dari instruksi pribadi melalui perangkat lunak WhatsApp yang diterima guru pada waktu upacara hari pertama Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS).
Pesan WhatsApp yang dimaksud diterima oleh guru kelas 1 lalu staf Tata Usaha (TU). Kemudian, merekan melapor untuk kepolisian serta secara langsung mengecek tempat kejadian perkara (TKP).
Adapun isi instruksi WhatsApp yang disebutkan yakni peneror mengancam akan meledakkan bom ke 11 titik sekolah kemudian meminta-minta pihak sekolah bukan melapor ke polisi.














