Pontianak – Bank Indonesia (BI) terus menguatkan kedaulatan Rupiah dalam kawasan perbatasan Indonesia-Malaysia melalui penyelenggaraan Layanan Sektor Keuangan Nusantara (Lentera) Batas Negeri 2026 pada Pos Lintas Batas Negara (PLBN) Entikong, Daerah Sanggau, Kalimantan Barat.
“Kegiatan ini menjadi upaya strategis Bank Indonesia memperluas layanan kebanksentralan hingga wilayah terdepan, terluar, serta terpencil (3T), sekaligus menguatkan literasi keuangan, digitalisasi sistem pembayaran, juga menyokong pertumbuhan ekonomi komunitas perbatasan,” kata Deputi Kepala Perwakilan Bank Tanah Air Provinsi Kalimantan Barat, Reynaldi Akbar Ariesha ke Pontianak, Minggu.
Reynaldi mengutarakan wilayah perbatasan memiliki tempat strategis sebagai beranda terdepan Nusantara sekaligus pintu masuk aktivitas kegiatan ekonomi lintas negara sehingga membutuhkan dukungan layanan keuangan yang mana semakin kuat lalu inklusif.
Menurut dia, melalui Lentera Batas Negeri, BI melakukan konfirmasi masyarakat perbatasan memperoleh akses terhadap uang Rupiah layak edar, edukasi Cinta, Bangga, serta Paham (CBP) Rupiah, pemanfaatan sistem pembayaran digital melalui QRIS lalu QRIS Cross Border, juga bermacam layanan umum yang membantu aktivitas kegiatan ekonomi masyarakat.
“Hingga Juni 2026, Bank Negara Indonesia Kalimantan Barat telah terjadi melaksanakan layanan Kas Keliling di dalam 12 titik wilayah 3T dengan nilai penukaran uang mencapai Rp2,78 miliar. Selain itu, melalui acara Ekspedisi Rupiah Berdaulat, BI juga menjangkau lima pulau terluar Kalimantan Barat, yakni Pulau Karimata, Pulau Maya, Pulau Cempedak, Pulau Pelapis, dan juga Padang Tikar, dengan total layanan penukaran uang sebesar Rp15,6 miliar,” tuturnya.
Di bidang edukasi, sepanjang 2026 BI Kalbar telah lama mengatur 74 kegiatan sosialisasi Cinta, Bangga, serta Paham Rupiah yang digunakan dihadiri oleh tambahan dari 22 ribu partisipan dari beragam kalangan sebagai bagian dari penguatan literasi keuangan masyarakat.
Pelaksanaan Lentera Batas Negeri 2026 merupakan kelanjutan inisiatif mirip yang dimaksud sebelumnya sukses diselenggarakan di PLBN Aruk, Wilayah Sambas, pada 2025. Pengalaman yang disebutkan berubah jadi dasar perluasan cakupan layanan pada Entikong melalui sinergi dengan pemerintahan Provinsi Kalimantan Barat, pemerintahan Kota Sanggau, Badan Nasional Pengelola Perbatasan, perbankan, juga bermacam instansi terkait.
Selama kegiatan berlangsung, masyarakat memperoleh bermacam layanan, mulai dari penukaran uang serta kas keliling, edukasi CBP Rupiah, QRIS Cross Border, pengamanan konsumen, hingga Pergerakan Pangan Murah yang digunakan menyediakan 1.000 paket komponen pangan sebagai bagian dari upaya mempertahankan keterjangkauan tarif lalu pengendalian inflasi.
Lentera juga menghadirkan Pasar Batas Nusantara yang digunakan melibatkan 23 UMKM binaan Rumah BUMN Sanggau. Selama kegiatan, pelaku UMKM berhasil berjualan 131 barang dengan total hasil penjualan mencapai Rp4,54 juta, sekaligus memperluas pemasaran item lokal terhadap warga lalu pelintas batas.
“Selain itu, melalui kegiatan Sinergi Layanan Kas (Silakas), komunitas mendapatkan beragam layanan terpadu, seperti layanan keimigrasian, Samsat Go Kecamatan, sosialisasi keselamatan transportasi, hingga pemeriksaan kesegaran gratis,” kata dia.
Bank Indonesia juga menghadirkan Rupiah Corner Perbatasan sebagai sarana edukasi interaktif mengenai ciri keaslian uang Rupiah, peran Bank Indonesia, dan juga perkembangan sistem pembayaran digital. Sementara itu, kegiatan Business Matching UMKM mempertemukan pelaku bisnis dengan calon pembeli, distributor, investor, kemudian lembaga pembiayaan untuk memperluas potensi kemitraan.
Dari sisi digitalisasi pembayaran, perkembangan pengaplikasian QRIS dalam Kalimantan Barat terus menunjukkan tren positif. Hingga Mei 2026, jumlah total merchant QRIS telah terjadi mencapai lebih tinggi dari 539 ribu merchant, yang digunakan didominasi pelaku bisnis mikro. BI menyimpulkan perkembangan yang dimaksud mencerminkan semakin luasnya adopsi operasi digital yang tersebut cepat, aman, lalu efisien, salah satunya untuk menggalang kegiatan lintas negara melalui QRIS Cross Border dalam kawasan perbatasan.
“Melalui kolaborasi tersebut, Bank Indonesi optimistis penguatan kedaulatan Rupiah, peningkatan literasi dan juga inklusi keuangan, juga perluasan digitalisasi sistem pembayaran mampu menguatkan ketahanan kegiatan ekonomi warga pada kawasan perbatasan sekaligus menegaskan peran wilayah perbatasan sebagai beranda sektor ekonomi Indonesia,” katanya.












