Kota Moskow – Organisasi utilitas listrik Prancis, EDF, menghentikan operasi tiga reaktor nuklir dan juga menghurangi produksi listrik ke delapan reaktor lainnya akibat gelombang panas yang dimaksud melanda negara itu, lapor harian Le Parisien, Mingguan (12/7) mengutip informasi perusahaan.
Langkah yang dimaksud diambil akibat status cuaca ekstrem juga untuk memenuhi ketentuan mengenai pembuangan air pendingin dan juga pengamanan lingkungan.
Reaktor Nomor 2 di dalam Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) Golfech yang mana berada di Sungai Garonne, Reaktor Nomor 3 di PLTN Bugey pada Sungai Rhone, juga Reaktor Nomor 2 di dalam PLTN Chooz dalam Sungai Meuse dihentikan operasinya.
Selain itu, EDF juga menghurangi kapasitas produksi di dalam PLTN Saint-Alban, Blayais, Bugey, Chooz, dan juga Tricastin.
Sesuai regulasi lingkungan di Prancis, EDF wajib menurunkan produksi reaktor sewaktu suhu air sungai melampaui ambang batas tertentu guna melindungi biosfer perairan. Gelombang panas yang tersebut sedang berlangsung sudah meningkatkan suhu sungai hingga mencapai tingkat kritis sehingga operator harus mengambil langkah tersebut.
Prancis, dengan beberapa jumlah negara Eropa lainnya, mengalami cuaca panas yang tersebut tidak ada biasa di beberapa pekan terakhir.
Pada akhir Juni, badan meteorologi Prancis mengeluarkan peringatan serius cuaca tingkat tertinggi pada 72 dari 96 wilayah administratif di negara itu, yang berubah menjadi rekor baru.
Suhu udara ketika itu mendekati 40 derajat Celsius kemudian bahkan melampaui bilangan yang dimaksud pada banyak wilayah.
Sumber: Sputnik/RIA Novosti-OANA













