Ibukota Indonesia – PT Bank Syariah Tanah Air (Persero) Tbk (BSI) membukukan pertumbuhan laba bersih sebesar 16,73 persen secara tahunan (year on year/yoy) sehingga mencapai Rp3,39 triliun per Mei 2026.
Menurut perseroan, kinerja positif ini ditopang oleh perkembangan dana tidak mahal (CASA), ekspansi pembiayaan yang tersebut berkualitas, dan juga akselerasi metamorfosis digital serta pengembangan bidang usaha bank emas.
Direktur Finance & Strategy BSI Ade Cahyo Nugroho pada keterangannya pada Jakarta, Selasa, mengutarakan peningkatan laba perseroan didorong oleh implementasi strategi dual license BSI sebagai bank syariah juga bank emas yang mampu menciptakan sumber pertumbuhan baru sekaligus menguatkan basis dana murah.
“Sebagai bank syariah, kami terus menguatkan penghimpunan dana melalui lingkungan haji juga umrah. Sementara sebagai bank emas, kami memperluas literasi serta akses tabungan BSI emas yang tersebut pada saat ini dapat dimulai dari Rp50 ribu. Strategi ini mendapat respons yang digunakan sangat positif, khususnya dari generasi muda yang digunakan sekarang bermetamorfosis menjadi mayoritas pelanggan baru BSI,” kata Cahyo.
Tabungan haji BSI hingga Mei 2026 meningkat 17,15 persen (yoy) bermetamorfosis menjadi Rp6,25 triliun. Perseroan menyatakan, pihaknya secara konsisten mengedukasi masyarakat, khususnya generasi muda, mengenai pentingnya perencanaan ibadah haji sejak dini melalui berubah-ubah kegiatan literasi di beberapa jumlah kota.
Menurut perseroan, kemudahan membuka akun tabungan haji melalui aplikasi mobile BYOND by BSI turut menggerakkan peningkatan pengambilalihan pelanggan secara digital.
Hingga Mei 2026, layanan mobile banking BSI sudah digunakan oleh lebih lanjut dari 10 jt pengguna, dengan nilai proses melampaui Rp450 triliun.
Adapun dana pihak ketiga (DPK) BSI pada periode yang tersebut mirip mencapai Rp372 triliun, berkembang 16,74 persen (yoy).
Dana terjangkau mendominasi dengan komposisi tabungan mencapai Rp165 triliun atau 44,35 persen dari total DPK, sehingga rasio current account saving account (CASA) meningkat berubah menjadi 63,16 persen.
Perseroan menyampaikan, penguatan dana ekonomis juga perubahan digital juga memberikan ruang yang digunakan lebih besar besar bagi perseroan untuk memperluas fungsi intermediasi.
Hingga Mei 2026, pembiayaan BSI meningkat 14,60 persen (yoy) menjadi Rp335 triliun, dengan fokus pada segmen konsumer juga permanen mempertahankan kualitas aset.
Hal ini tercermin dari rasio non-performing financing (NPF) gross yang tersebut membaik bermetamorfosis menjadi 1,80 persen, dibandingkan 1,88 persen pada periode yang tersebut sebanding tahun sebelumnya.
Cahyo menegaskan, BSI akan terus meningkatkan kekuatan sinergi antara layanan digital, jaringan kantor cabang, e-channel, dan juga pengembangan lingkungan syariah untuk memperluas inklusi keuangan syariah dalam Indonesia.
Ia menambahkan bahwa perseroan optimistis penguatan dana murah, perubahan struktural digital, juga pengembangan lingkungan haji, umrah, lalu industri bank emas akan berubah menjadi mesin perkembangan berkelanjutan.
“Seluruh layanan BSI saling terintegrasi untuk menghadirkan pengalaman terbaik bagi pengguna sekaligus menguatkan peran BSI sebagai mitra strategis penduduk pada memenuhi keinginan keuangan syariah secara menyeluruh,” kata Cahyo.











