DKI Jakarta – Angka tukar (kurs) rupiah pada penutupan perdagangan Hari Senin sore melemah 32 poin atau 0,18 persen menjadi Rp17.995 per dolar Negeri Paman Sam dari sebelumnya Rp17.963 per dolar AS.
Analis lingkungan ekonomi uang Ibrahim Assuaibi mengutarakan pelemahan ini dipengaruhi respons negatif lingkungan ekonomi menghadapi laporan terbaru Fitch Ratings terkait keadaan sektor ekonomi Indonesia.
“Fitch Ratings di laporan terbarunya memberi pandangan mendalam mengenai rapuhnya keadaan sektor ekonomi makro Indonesia, yang tersebut terlihat dari indikator pelemahan rupiah, penurunan cadangan devisa, hingga arus modal meninggalkan yang mana masif. Namun demikian, perhatian sesungguhnya dari Fitch ialah pada aspek kepercayaan pemodal yang mana kian melemah akibat memburuknya tata kelola ekonomi,” ucapnya pada pernyataan tertulisnya pada Jakarta, Senin.
Lembaga pemeringkat itu mengingatkan bahwa tekanan berkepanjangan dapat meningkatkan utang serta biaya pinjaman pemerintah, sekaligus memperbesar risiko terhadap penurunan peringkat utang (sovereign rating) Indonesia, yang mana pada Maret 2026 masih dipertahankan pada level BBB lalu prospek (outlook) direvisi bermetamorfosis menjadi negatif.
Selain Fitch Ratings, lanjut dia, pangsa juga gelisah pasca neraca perdagangan Indonesia kembali mencatatkan defisit 1,61 miliar dolar Negeri Paman Sam pada Mei 2026, yang dimaksud mengakhiri tren surplus selama 72 bulan beruntun.
Melihat sentimen global, tensi geopolitik memanas sebab adanya peperangan antara Rusia dengan negara Ukraina menjauhi perjumpaan puncak Forum Level Tinggi (KTT) NATO dalam Turki. Selain itu, ketidakpastian kesepakatan antara Negeri Paman Sam dengan Iran terkait Selat Hormuz turut membatasi penurunan nilai tukar minyak mentah.
Kurs Ibukota Indonesia Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Nusantara pada hari ini juga berpindah melemah pada level Rp17.999 per dolar Amerika Serikat dari sebelumnya Rp17.960 per dolar AS.












